Forgot Password Register

Pengamat: Penyebaran Ideologi Radikal Lebih Berbahaya Dibanding Vonis Mati Teroris

Teroris (Ilustrasi: Pixabay) Teroris (Ilustrasi: Pixabay)

Pantau.com - Terdakwa dugaan aktor bom Thamrin, Oman Rochman alias Aman Abdurrahman dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat, 18 Mei 2018. 

Tuntutan mati itu dinilai pengamat terorisme, Mujahidin Nur, sebagai bentuk pesan tegas Pemerintah Indonesia dalam melakukan pemberantasan terorisme. Namun diyakini tidak akan menghapus ideologi radikal pengikutnya.

"Vonis mati menurut saya hanya bisa dimaknai sebagai pesan tegas pemerintah dalam melakukan pemberantasan terorisme di hadapan mereka, para pendukung ISIS," kata Mujahidin yang juga Direktur The Islah Center di Jakarta, Senin (21/5/2018).

Baca juga: Sepak Terjang Aman Abdurrahman, Singa Tauhid yang Terancam Hukuman Mati

Mujahidin berpendapat sampai saat ini kelompok teroris (ISIS) adalah kelompok yang bergerak dengan tumpuan ideologi, bukan pada ketokohan atau kepemimpinan individu tertentu, misalnya, Aman Abdurahman.

"Karakter kelompok berbasis ideologi seperti ISIS ini ulet, tidak mudah putus asa dan tidak bisa dilemahkan jadi walaupun dengan memvonis mati pemimpinnya seperti yang diberikan oleh pemerintah melalui PN Jaksel pada Aman Abdurahman," ucapnya.

Ia menambahkan, sebab ideologi sebagai tumpuan pergerakan mereka (pemikiran takfiriyah/pengkafiran) yang disebarkan oleh Aman Abdurahman sudah masif tersebar ke seluruh jaringan atau kelompoknya.

"Walaupun ISIS Indonesia miskin pemimpin yang mempunyai skill lapangan dan keilmuan seperti Aman Abdurahman, tapi vonis mati pada Aman Abdurahman hemat saya tidak akan mempunyai pengaruh signifikan pada pelemahan jaringan terorisme di Indonesia," tuturnya.

Baca juga: Aman Abdurrahman Dituntut Hukuman Mati Atas Teror Bom Thamrin

Meski begitu hal tersebut berdampak positif untuk jangka pendek karena pendukung ISIS Indonesia kehilangan figur yang mempunyai keilmuan dan kepemimpinan seperti Aman Abdurahman.

"Saya analogikan di kelompok Al-Qaeda, misalkan, terbunuhnya Osama bin Laden sama sekali tidak mempunyai pengaruh signifikan pada penghentian terorisme global yang didalangi oleh kelompok Al-Qaeda karena ideologi Al-Qaeda sudah tersebar ke berbagai penjuru dunia," paparnya.

Ia menegaskan, vonis mati pada pemimpin kelompok teroris akan efektif menghentikan terorisme dilihat dari dua variabel yakni pertama, apabila pemimpin teroris tersebut mempunyai pengaruh kepemimpan atau karisma yang kuat di tengah pengikutnya.

Kedua, tentu saja hal ini berlaku untuk kelompok teroris yang mempunyai sedikit anggota dan benar-benar menjadikan pemimpin sebagai tumpuan pegerakan mereka maka vonis mati ini akan menjadi efektif.

"ISIS ini organisasi terorisme yang mempunyai banyak pengikut," imbuhnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More