Forgot Password Register

Penyitaan Kapal oleh AS Nodai Kesepakatan KTT AS-Korut

Penyitaan Kapal oleh AS Nodai Kesepakatan KTT AS-Korut Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Korea Utara Kim Jong-un. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Korea Utara mengatakan penyitaan terhadap salah satu kapal kargo miliknya oleh Amerika Serikat adalah tindakan ilegal yang melanggar semangat perjanjian puncak antar pemimpin kedua negara, dan menuntut kembalinya kapal tanpa penundaan.

Tindakan Washington itu dinilai menolak resolusi Dewan Keamanan PBB, yang disebutkan AS kapal kargo tersebut melanggar kedaulatannya, demikian pernyataan kementerian luar negeri Korea Utara.

"Tindakan ini merupakan perpanjangan dari perhitungan AS untuk menahan kita dalam 'tekanan maksimum' dan merupakan penyangkalan total dari semangat antara AS-DPRK pada Juni 12," kata juru bicara kementerian, dikutip kantor berita resmi negara KCNA.

Baca juga: Kim Luncurkan Rudal Jarak Pendek, Trump: Mereka Tak Siap Negoisasi!

Sebagai informasi, nama formal Korea Utara adalah Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK). 

Amerika Serikat sangat keliru jika bisa mengendalikan Utara dengan kekuatannya. Korea Utara akan memasang mata tajam pada perilaku AS di masa depan, demikian pernyataan kementerian.

Sebelumnya, Departemen Kehakiman AS pada pekan lalu menyita kapal kargo milik Korea Utara yang dituduh melakukan pengiriman batu bara terlarang yang melanggar sanksi, setelah sebelumnya ditahan oleh polisi Indonesia pada April 2018 lalu.

Baca juga: IRGC: Amerika Serikat Mulai Perang Dingin di Kawasan Timur Tengah

Para pejabat AS mengatakan bahwa kapal Korea Utara yang dikenal sebagai Wise Honest, tengah di bawa ke Samoa Amerika. Pernyataan itu datang setelah Utara meluncurkan dua misil jarak pendek pada Kamis, 9 Mei 2019.

Tes dua rudal jarak pendek dan penembakan serangkaian proyektil itu adalah rudal pertama yang diluncurkan oleh Utara sejak rudal balistik antarbenua (ICBM) pada November 2017.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un memerintahkan 'sikap siap perang tingkat tinggi' menyusul dengan perampasan kapal kargo Pyongyang oleh Amerika Serikat, seperti dilansir Reuters, Rabu (15/5/2019).

Share :
Komentar :

Terkait

Read More