Pantau Flash
Vettel Akui Mercedes Begitu Sempurna Musim Ini
MPR Pastikan Megawati dan SBY Akan Hadiri Pelantikan Jokowi-Ma'ruf
KontraS Nilai Hukuman Mati Sudah Tak Relevan di Indonesia
Anies Baswedan Klaim Rumah DP Rp0 Laris Manis
Dibenamkan Vietnam 1-3, Suporter Indonesia Lakukan Unjuk Rasa

Perpecahan di Media Sosial Usai Pilpres Jadi Sorotan Media Asing

Headline
Perpecahan di Media Sosial Usai Pilpres Jadi Sorotan Media Asing Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo dan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto. (Foto: ABC News)

Pantau.com - Suasana saat Pemilihan Presiden dan Pemilihan Umum Serentak 2019 lalu telah meningkatkan ketegangan di masyarakat. Meski begitu, indeks perdamaian dunia terbaru menunjukkan angka perdamaian di Indonesia justru meningkat.

Untuk tahun 2019, Indonesia naik 14 peringkat dan kini berada di posisi ke 41 negara paling damai dunia, dan masuk dalam kategori kondisi perdamaian yang tinggi.

Melansir ABC News, Jumat (14/6/2019), Global Peace Index ini dikeluarkan oleh Institute for Economic and Peace (IEP) yang berbasis di Sydney, Australia, dengan melakukan penilaian terhadap 163 negara dengan lebih dari 20 kriteria. Semakin tinggi poin dalam kriteria, maka semakin tidak aman sebuah negara dan Indonesia mendapat poin 1,785.

Islandia berada di peringkat pertama dengan poin 1,072, diikuti Selandia baru yang memperoleh poin 1,221 dan Portugal di peringkat ketiga dengan poin 1,274.

Afghanistan berada di peringkat terendah, sementara Suriah naik satu peringkat ke posisi 162, yang masing-masing mendapat poin lebih dari 3,5. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, perdamaian global dan dampak ekonomi dari kekerasan membaik di tahun ini.

Baca juga: Ketika Media Asing Soroti Kerusuhan Massa dalam Aksi 22 Mei di Jakarta

Perpecahan lebih terasa di jejaring sosial


Selama pilkada DKI Jakarta tahun 2017, sejumlah warga muslim dipertanyakan soal keyakinannya. (Foto: Flickr/Chris Lewis)

Meski tingkat perdamaian Indonesia meningkat, ketegangan banyak dirasakan oleh warga Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, terutama menjelang Pemilihan Presiden 2019.

Seperti Gayatri, warga Jakarta yang pernah mengatakan kepada ABC Indonesia jika perbedaan pilihan politik telah memicu perpecahan di keluarganya sendiri.

Menurutnya ketegangan sudah dirasakan sejak kampanye Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017, saat Basuki Tjahaja Purnama, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dituduh melakukan penistaan agama.

Baca juga: Cerita Kelam Aksi 22 Mei dari Mata Media Internasional

Sejumlah pengamat mengatakan perpecahan lebih terjadi di jejaring sosial dengan salah satu pemicunya adalah semakin mudah dan maraknya peredaran berita palsu antara pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Tetapi, Ika Karlina Idris, dosen komunikasi di Universitas Paramadina mengatakan kepada The Conversation Indonesia jika jejaring sosial justru digunakan oleh warga untuk mengekspresikan kekecewaan mereka terhadap hasil pilpres atau dukungan terhadap pemenang.

Tingkat perdamaian di Indonesia naik turun


Ledakan sempat terdengar di Jakarta saat dua pasangan calon presiden sedang berdebat di bulan Februari 2019. (Foto: AP/Achmad Ibrahim via ABC News)

Dibandingkan negara-negara lain tetangga di kawasan ASEAN, angka perdamaian di Indonesia sering mengalami naik turun. Di tahun 2009, Indonesia menduduki peringkat terendah dalam satu dekade, yakni di peringkat 51.

Kemudian peringkat naik ke posisi 45 di tahun 2010, tetapi kemudian turun kembali di tahun 2011 menjadi peringkat 47. Posisi Indonesia kemudian meningkat kembali di tahun 2013 ke posisi 43 di tahun 2013, tetapi langsung melorot ke peringkat 52 di tahun 2014, yang juga menjadi tahun pemilu.

Baru mulai tahun 2016, peringkat perdamaian di Indonesia relatif stabil dengan menduduki posisi 42. Untuk tahun ini Indonesia juga masuk ke dalam daftar negara dengan resiko iklim dan bencana alam tertinggi.

Indonesia mendapatkan angka yang positif dari sejumlah kriteria, seperti konflik domestik yang lebih rendah dibandingkan Kamboja, China, dan Thailand. Keamanan sosial di Indonesia juga relatif terkendali, tetapi masih kalah dibandingkan Laos, Vietnam, dan Malaysia.

Jika melihat kriteria lainnya, yakni tingkat militerisasi, Indonesia juga memiliki angka yang lebih rendah dari Thailand dan Myanmar, meski kalah dibandingkan Malaysia.


Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Noor Pratiwi
Category
Internasional

Berita Terkait: