Pantau Flash
Jubir KPK: Tak Ada Ketentuan Pimpinan Harus Perwakilan Institusi Tertentu
JK Isyaratkan Gerindra Lebih Baik Jadi Oposisi Demi Keseimbangan
Unggul Head to Head dengan Li/Liu, Minions Ogah Pandang Remeh
Tolak Pinangan Barca dan PSG, De Ligt: Saya Mengagumi Juventus
Hingga Akhir 2019, Blok Masela Bisa Dongkrak Cadangan Migas 300 Persen

Perundingan Dagang dengan China Diperpanjang, Trump Meluluh?

Headline
Perundingan Dagang dengan China Diperpanjang, Trump Meluluh? Ilustrasi (Pixabay)

Pantau.com - Presiden AS Donald Trump hari Selasa (12/2/2019) mengatakan akan mempertimbangkan untuk memperpanjang batas waktu kesepakatan perdagangan dengan China, setelah tanggal 1 Maret.

"Jika kita hampir mencapai kesepakatan, di mana kita menganggap bisa membuat kesepakatan nyata. Saya bisa memperpanjangnya sebentar," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Tapi ia menambahkan, "Secara umum saya tidak ingin melakukannya," tambahnya.

Baca juga: Greenland Jadi Eksportir Pasir Terbesar Jika Es Mencair, Bahaya atau Berkah?

Komentar itu disampaikan sementara putaran ketiga perundingan perdagangan dijadwalkan dimulai kembali di Beijing untuk mencegah tarif impor dua kali lipat lebih terhadap barang China senilai $200 miliar.

"China sangat ingin membuat kesepakatan, perundingan berjalan baik," ungkapnya.

Meskipun belum ada tanggal yang disepakati untuk pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping, Trump berharap pertemuan itu akhirnya akan terjadi.

Baca juga: Utang Kredit Rumah AS Naik Menjadi 9,1 Dolar Triliun AS

Perselisihan berisiko tinggi itu telah meningkatkan kekhawatiran akan meluas pada ekonomi global setelah Trump tahun lalu menghantam China dengan tarif impor balasan sebesar 25 persen atas barang-barang China senilai $ 50 miliar, dan kemudian mengenakan bea impor 10 persen pada impor tahunan lainnya senilai $200 miliar.

Tarif seluruh impor itu akan naik menjadi 25 persen jika tidak tercapai kesepakatan pada 1 Maret.

Ekonomi China telah menunjukkan tanda-tanda perlambatan, sementara perang perdagangan itu telah mengguncang kepercayaan bisnis AS, karena tarif pembalasan itu telah menaikkan harga-harga dan ikut menghambat pasar ekspor utama.

Baca juga: 60 Persen Tenaga Kerja di Indonesia Rentan Tergantikan oleh Mesin

Strategi agresif Trump gagal mengurangi defisit perdagangan AS dengan China, yang ia tetapkan sebagai tujuan utama.

Trump mengulangi pernyataan yang salah bahwa China membayar bea masuk tersebut namun sebenarnya dibayar oleh perusahaan AS yang mengimpor barang-barang tersebut.

Para ekonom mengatakan sebagian besar dampak yang diinginkan dari tarif pajak itu dalam mengurangi impor, telah diimbangi dengan devaluasi mata uang China, yang membuat barang-barang lebih murah bagi importir. 

Share this Post:
Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: