Forgot Password Register

Polisi Akan Musnahkan Bahan Peledak Jaringan Teroris Santoso dan Daeng Koro

Ilustrasi teroris. (Foto: Pixabay) Ilustrasi teroris. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menyatakan bahan peledak milik empat orang jaringan teroris Santoso dan Daeng Koro yang diamankan anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri sudah siap diledakkan.

"Bahan peledak seberat 15 kilogram itu sudah tercampur dan semuanya diamankan di kebun milik jaringan teroris ini. Semuanya sudah dicampur dan sudah siap untuk diledakkan," ujar Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani di Makassar, Sabtu.

Ia mengatakan bahan peledak dari jaringan teroris Santoso berinisial B dan M, yang diringkus di wilayah Luwu Timur (Lutim), serta dua lainnya R dan I di Kabupaten Bone, Sulsel, itu telah diolah.

Baca juga: Perangi Terorisme, Indonesia-Filipina Gelar Kerja Sama

Kombes Dicky menyatakan jika bahan peledak yang dibungkus dan ditanam dalam tanah itu hanya menyisakan detonator sebelum diledakkan di tempat-tempat yang diinginkannya.

"Kalau jenis peledaknya itu sama dengan jenis yang selama ini digunakannya. Mereka sudah beraksi sejak 2010 lalu dan berpengalaman dalam perakitan dan perencanaan," katanya.

Dicky menyatakan berdasarkan hasil interogasi singkat kepada para pelaku bahwa ada kemungkinan aksi peledakan akan di lakukan pada tahun ini khususnya di Agustus.

"Ada kemungkinan mereka akan beraksi di bulan Agustus ini. Mereka punya target-target, tapi rencana mereka bisa dicegah setelah diamankan beserta bahan peledaknya," terangnya.

Baca juga: BNPT: Hati-hati, Teroris Incar Anak Muda untuk di 'Brainwashing'

Menurut dia, keempat pelaku jaringan teroris Santoso dan Daeng Koro ini diduga terlibat dalam pengeboman di Poso yang korbannya adalah anggota polisi.

Apalagi empat orang jaringan teroris Santoso ini, lanjut Kombes Dicky, merupakan anggota aktif dan terlibat dalam beberapa aksi sejak tahun 2010.

Mantan Direktur Sabhara Polda Kepulauan Riau itu menyatakan keempatnya anggota aktif yang berada di wilayah pegunungan Sulawesi Tengah bersama dengan Santoso. "Santoso itu punya banyak anggota aktif dan ini merupakan pendukung, sedangkan simpatisan adalah warga setempat. Yang ditangkap, pendukung," ucapnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More