Pantau Flash
Garuda Indonesia Jalankan Inspeksi Terhadap B-737-800 NG Hasil Temuan FAA
Kemenpora Kucurkan Bonus untuk Tim Bulutangkis Junior
APEC Laporkan Jutaan Dana Raib Pasca KTT di Papua Nugini
Presiden Jokowi Bertemu Pimpinan MPR Bahas Teknis pelantikan
KPK Amankan Uang Rp200 Juta Terkait OTT Wali Kota Medan

'Rebut' Freeport, Anggota DPR RI Acungkan Jempol untuk PT Inalum

Headline
'Rebut' Freeport, Anggota DPR RI Acungkan Jempol untuk PT Inalum Direktur PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), Budi Gunadi Sadikin(Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Anggota Komisi VI DPR RI Hamdhani menyatakan, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) di Sumatera Utara patut diacungi jempol karena beberapa asetnya sudah dimiliki oleh bangsa sendiri dan dikelola oleh rakyat di Tanah Air.

"Keberhasilan PT Inalum patut diacungi jempol, karena beberapa aset-aset BUMN sudah dimiliki oleh bangsa sendiri, jadi kemampuan pengelolaan maupun pengalihan teknologi sudah bisa ditangani oleh putra-putri Indonesia," kata Hamdhani dalam rilis di Jakarta, Senin (11/2/2019).

Baca juga: Kabar Gembira, Pertamina Temukan Cadangan Minyak di Sumur Benewangi

PT Inalum yang berdiri sejak 1979 yang mayoritas sahamnya dipegang oleh Jepang, sekarang sudah diambil alih 100 persen oleh Pemerintah Indonesia. Menurut dia, keberadaan Inalum akan menjadi ikon kawasan yang sangat layak diperhitungkan oleh pelaku usaha yang mengedepankan aspek integrasi bisnis serta aspek kedekatan lokasi dengan pelabuhan.

Sebelumnya, induk holding pertambangan PT Inalum (Persero) membukukan aset sebesar Rp162 triliun pada akhir 2018 atau melesat 74 persen dibanding 2017 setelah divestasi saham PT Freeport Indonesia.

"Pada 2017 setelah inbreng asetnya Rp93 triliun, kemudian sesudah membeli Freeport menjadi Rp162 triliun," kata Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin pada peresmian lembaga riset tambang di Jakarta, Jumat (1/2/2019).

Aset Inalum pada 2016 tercatat sekitar Rp23 triliun, kemudian setelah holding tambang pada 2017 melesat menjadi Rp93,2 triliun dan pada akhir 2018 menjadi Rp162 triliun setelah melakukan pembelian saham PT Freeport Indonesia.

Besaran kas yang dibukukan oleh holding pertambangan ini juga tercatat naik 25 persen menjadi Rp23 triliun dibandingkan 2017 sebesar Rp18,3 triliun.

Baca juga: Di Tengah Goyangan Utang Negara, Jokowi Tegaskan Pentingnya Infrastruktur

Selain aset yang tumbuh melesat, Budi menjelaskan bahwa utang yang dibukukan mengalami peningkatan sebesar 417 persen dari Rp14 triliun pada 2017 menjadi Rp72,7 triliun pada 2018.

Sementara itu, ekuitas perseroan juga tercatat meningkat dari Rp66 triliun pada 2017, menjadi Rp74,3 triliun pada 2018.

Budi menambahkan pada tahun ini, Inalum akan fokus pada pengerjaan empat proyek hilirisasi yang terdiri atas pembangunan pengolahan bauksit menjadi alumina bersama PT Aneka Tambang Tbk di Kalimantan Barat, pembangunan pengolahan batu bara menjadi gas dan produk turunan lainnya yang akan dilakukan oleh PT Bukit Asam Tbk di Riau.

Selanjutnya, pembangunan smelter tembaga yang akan dilakukan oleh PT Freeport Indonesia dan penjajakan pengolahan nikel menjadi bahan utama yang dapat digunakan oleh industri baterai.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: