Forgot Password Register

Rugikan 50% Perekonomian Indonesia, Ini Pesan Ekonom Soal Cuti Lebaran

Gerbang Tol Jagorawi Taman Mini Toll Gate Jalan Tol e-Money (Foto:Pantau.com/Fery Heryadi) Gerbang Tol Jagorawi Taman Mini Toll Gate Jalan Tol e-Money (Foto:Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Pemerintah akan kembali merevisi cuti bersama Lebaran 2018, yang sebelumnya disepakati melalui perubahan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2018.  

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Bhima Yudhistira, mengatakan kebijakan penambahan libur lebaran memang dirasa mendadak tanpa berkoordinasi dengan para pengusaha.

"Kebijakan perpanjangan cuti bersama terkesan dilakukan secara mendadak tanpa adanya koordinasi dengan para pengusaha. Padahal implikasi lama cuti bersama akan mempengaruhi sebagian besar aktivitas bisnis perusahaan khususnya ekspor-impor, investasi dan produksi," ujarnya saat dihubungi Pantau.com, Kamis (3/5/2018).

Baca juga: Soal Inflasi April, Menteri Darmin: Itu Masih OK

Ia menambahkan, meski disatu sisi lama cuti Lebaran akan mendorong orang lebih banyak mengeluarkan uangnya untuk belanja barang yang dilakukan sebagai langkah mengantisipasi penurunan pertumbuhan sektor ritel. Seperti yang terjadi pada Lebaran tahun lalu, ketika ritel hanya tumbuh 5 persen. Namun menurutnya, dari sisi kerugian justru lebih besar hingga mempengaruhi 71 persen komponen Produk Domestik Bruto (PDB).

"Dari sisi kerugiannya, ternyata lebih besar. Komponen ekspor menyumbang 20% terhadap PDB, impor kontribusinya 19% dan investasi cukup besar yakni 32%. Jika ditotal, perpanjangan cuti akan mempengaruhi 71% dari komponen PDB," paparnya.

Selain itu birokrasi yang mengurus izin ekspor-impor dan investasi saat libur akan sangat menganggu aktivitas bisnis.

"Investasi menjadi terhambat dan memerlukan waktu yang lebih lama. Jalan yang biasa dilalui transportasi logistik pun terpaksa dialihfungsikan untuk menssuport arus mudik Lebaran, sehingga truk tidak bisa beroperasi normal," ungkapnya.

Selain itu kebijakan penambahan libur juga tentu akan mengubah waktu target untuk memenuhi stok. Padahal menurutnya, kurs rupiah yang sedang melemah membuat tingginya harga bahan baku.

Baca juga: Bukan Emas, Ini Komoditas Paling Mahal di Dunia Versi Jokowi

"Rencana produksi pengusaha juga akan berubah drastis, target untuk memenuhi stok bulan Lebaran harus dilakukan lebih cepat. Padahal saat ini biaya impor bahan baku meningkat karena kurs rupiah sedang melemah. Beban produksi akhirnya meningkat," tuturnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bila penambahan libur lebaran tetap diterapkan menurutnya harus diikuti oleh kebijakan lain yang menopang kemudahan sebagai kompensasi bagi para pengusaha.

"Boleh boleh saja misalkan perpanjang libur, tapi syaratnya pengurusan izin ekspor-impor dan investasi pun harusnya lebih cepat dengan penambahan shift kerja," katanya.

"Satu bulan sebelum cuti bersama, saya sarankan birokrasi yang berhubungan dengan aktivitas bisnis perlu buka 24 jam dalam sehari. Itu kompensasi yang harusnya disiapkan Pemerintah kalau tak mau Negara kehilangan pajak juga akibat terganggunya aktivitas bisnis," pungkasnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More