Pantau Flash
Kata Mahfud, KPK Tak Bisa Kembalikan Mandat ke Presiden
Soal Revisi UU Minerba, Jonan: Pernyataan Pemerintah Bisa Pengaruhi Harga
Suasana Memanas, OKI Gelar Pertemuan Luar Biasa Bahas Aksi Paksa Israel
Jokowi Diminta untuk Segera Melantik 5 Pimpinan Baru KPK
Rizki/Della ke Final Vietnam Open 2019, Anggia/Pia Terhenti

Selain Habibie, Ini 5 Ilmuwan yang Akhirnya Jadi Pemimpin Negara

Selain Habibie, Ini 5 Ilmuwan yang Akhirnya Jadi Pemimpin Negara BJ Habibie. (Foto: Istimewa)

Pantau.com - Menjadi seorang ilmuwan merupakan cita-cita bagi setiap orang. Namun, tak banyak ilmuwan yang mau berkecimpung di dunia politik dengan menjadi kepala pemerintah.

Contohnya, sosok BJ Habibie, yang pemikirannya di atas rata-rata orang pada umumnya. Presiden Republik Indonesia ke-3 ini merupakan seorang ilmuwan di bidang kedirgantaraan. Banyak paten yang dibuat untuk memajukan dunia aviasi.

Karena itu, salah satu ilmuwan asal Australia, Universitas New South Wales (UNSW) Emma Johnston, meminta agar para politisi lebih berpemikiran ilmiah untuk duduk di pemerintahan. Namun, upaya itu bisa muncul dengan sebuah konsekuensi.

"Kami tahu bahwa ilmuwan mencintai fakta dan angka, mereka menyukai proses, mereka mencintai visi, jadi saya pikir masuknya lebih banyak politisi berlatar belakang ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, matematika dan kedokteran ke dalam sistem pemerintahan, secara alami akan meningkatkan dasar bukti dari diskusi yang sedang berlangsung," tutur Emma seperti dikutip dari ABC News.

Kali ini Pantau.com merangkum ilmuwan mana saja yang mampu jadi kepala pemerintahan. Maklum saja, kebanyakan para politisi berasal dari latar belakang ilmu sosial dan ekonomi.

1. Margaret Thatcher (Ahli Kimia)

Margaret Thatcher. (Foto: Global News)

Mantan Perdana Menteri Inggris ini memiliki gelar sarjana sains dari Universitas Oxford. Ia lulus dengan ijazah second-class honours. Margaret memiliki spesialisasi dalam bidang kristalografi X-ray di bawah bimbingan Dorothy Hodgkin, yang kemudian mendapat Hadiah Nobel Kimia.

Bekerja sebagai peneliti kimia setelah lulus, dirinya akhirnya pindah ke Dartford untuk memulai karir politiknya. Margaret terus bekerja sebagai peneliti untuk mendukung kehidupannya sendiri, membuat terobosan sebagai ahli kimia dengan membantu mengembangkan emulsifier untuk es krim.

Margaret merupakan salah satu pemimpin negara maju yang mengatasi isu pemanasan global. Ia mendirikan Panel Antar-Pemerintah tentang Perubahan Iklim dan Pusat Prediksi dan Penelitian Iklim Hadley di Inggris. Tak ayal, memicu protes dari penambang batubara.

Ia bak Ratu Inggris yang menyukai kuda. Meski Ratu lebih menyukai mereka di arena balap, sementara Margaret menempatkannya di sebuah arena politik.

Baca juga: 5 Keteladanan BJ Habibie Ini Wajib Banget Kamu Tiru!

2. Jimmy Carter (Ahli Nuklir)

Jimmy Carter. (Foto: MPR News)

Jimmy Carter pernah bertugas sebagai insinyur di kapal selam nuklir Amerika Serikat (AS) sebelum menjadi kepala pemerintahan. 

Carter lulus dari Akademi Angkatan Laut AS pada tahun 1946 dengan gelar sarjana di bidang sains, menempati peringkat 60 dari 820 mahasiswa.

Ia menjabat sebagai petugas teknik di Kapal Perang USS Seawolf, kapal selam nuklir kedua milik Amerika Serikat, sebelum menyelesaikan studi pasca sarjana fisika nuklir di Union College, New York.

Kematian sang ayah mengakhiri karir insinyurnya ketika ia pindah kembali ke Plains, negara bagian Georgia, untuk mengambil alih perkebunan kacang milik keluarga.

Carter kemudian bertransformasi dari mengurus kacang ke dunia politik. Namun ia mengalami kesulitan seperti yang biasa dialami orang yang berotak cemerlang, dirinya kewalahan oleh kompleksitas dunia politik dan ragu-ragu.

Angela Merkel. (Foto: BBC)

3. Angela Merkel (Ahli Fisika)

Angela Merkel telah menjadi Kanselir Jerman sejak tahun 2005. Ia unggul secara akademis di SMA, tetapi sempat gagal dalam pelajaran fisika.

Merkel memutuskan mengejar ilmu pengetahuan fisika di Universitas Leipzig untuk membuktikan bahwa ia bisa menguasainya. Dirinya akhirnya lulus dengan gelar di bidang fisika dan kimia fisik sebelum mendapatkan gelar PhD dalam kimia kuantum dari Akademi Sains Jerman.

Ia bekerja sebagai ahli kimia di beberapa akademi sampai runtuhnya Tembok Berlin yang mendorongnya untuk berkarir dalam politik.

Merkel telah menunjukkan keyakinan dalam sejumlah situasi yang mengerikan yakni menyatukan Jerman Timur dan Barat, menciptakan kekayaan riil dan menunjukkan rasa kemanusiaan terhadap imigran.

Baca juga: Dunia Berduka atas Meninggalnya Presiden ke-3 RI BJ Habibie

4. Pope Francis (Ahli Kimia)

Pope Francis. (Foto: La Croix International)

Paus Francis belajar kimia dan sempat bekerja di laboratorium sebelum masuk seminari. Paus adalah seorang ahli kimia, bukan insinyur.

Menurut biografi resmi di situs Vatikan, sebelum Paus Francis memasuki imamat, ia belajar kimia dan "lulus sebagai teknisi kimia".

Pemimpin Gereja Katolik ini lulus dengan kualifikasi di bidang kimia dari Escuela Tecnica Industrial No. 12, sebuah sekolah menengah kejuruan negeri di Argentina.

5. Avul Pakir Jainulabdeen Abdul Kalam (Ahli Nuklir)

Abdul Kalam. (Foto: Livemint)

Abdul Kalam lahir pada 15 Oktober 1931 di Tamil Nadu sebagai seorang Muslim yang berasal dari keluarga India Selatan yang sederhana. Ayah Kalam bekerja sebagai penyewa kapal untuk para nelayan yang bekerja di selat antara India dan Sri Lanka. Sejak kecil Kalam menyukai studi aeronautika.

Setelah lulus dari Fakultas Teknik Penerbangan, Madras Institute of Technology, Kalam menghabiskan empat dekade sebagai ilmuwan di Organisasi Pengembangan dan Riset Pertahanan (DRDO) dan Organisasi Riset Luar Angkasa India (ISRO).

Tak lama kemudian dirinya mendapatkan penghargaan Bharat Ratna, penghargaan sipil tertinggi India, pada 1997. Ini ia dapatkan atas kontribusinya di bidang penelitian ilmiah dan modernisasi teknologi pertahanan. Selain sebagai ilmuwan, Kalam pernah menjabat sebagai Presiden India periode 2002-2007. Ia menjadi presiden ketiga yang memeluk Islam setelah Zakir Hussein dan Fakhruddin Ali Ahmed.

Ada kata motivasi Kalam yang terngiang di telinga rakyat India sampai sekarang. "Kita harus berpikir dan bertindak seperti satu miliar orang, tidak seperti satu juta orang. Mimpi, mimpi, mimpi!" kata Kalam.

Pada 27 Juli 2015, Kalam wafat di usia ke-83 tahun. 

Share this Post:
Tim Pantau
Sumber Berita
Dari berbagai sumber
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - TAG
Category
Internasional

Berita Terkait: