Forgot Password Register

Setya Novanto Ungkapkan Penyesalannya Telah Mengenal Johannes Marliem

Setya Novanto (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi) Setya Novanto (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Pantau.com - Setya Novanto menyesal telah mengenal Direktur PT Biomorf Lone Indonesia, almarhum Johannes Marliem. Bahkan, Novanto merasa dijebak, lantaran Marliem diam-diam merekam pertemuan dirinya dengan beberapa pengusaha pemenang tender proyek e-KTP, yang seolah-olah menunjukkan ia mengatur proyek e-KTP.

Novanto menuturkan, kalau Johannes Marliem sengaja merencanakan sejumlah pertemuan dengan dirinya, kemudian sengaja merekam percakapan antara Novanto dengan Johanes Marliem saat membahas proyek e-KTP.

"Sejak awal saudara Johannes Marliem dengan maksud tertentu telah dengan sengaja menjebak saya dengan merekam pembicaraan pada setiap pertemuan dengan saya," ujar Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (13/2018).

Baca juga: Setya Novanto Baca Puisi di Akhir Pleidoi, Menyindir Siapa?

Seperti diketahui, rekaman dari Johannes Marliem dijadikan alat bukti dalam persidangan e-KTP oleh KPK, yang di dalamnya ada suara beberapa orang yang membicarakan proyek e-KTP dan diduga terlibat dalam korupsi yang merugikan negara sebesar Rp2,3 triliun.

Mantan Ketua DPR RI itu menyebut Marliem sengaja mengatur beberapa pertemuan dirinya dengan beberapa pengusaha dan pejabat Kemendagri, seperti pertemuan di Hotel Grand Melia, Kuningan, Jakarta Selatan.

"Jika saja saya tidak bersedia ditemui Andi Agustinus, Irman dan Diah Anggraeni di Hotel Grand Melia, mungkin saja saya tidak akan pernah terlibat jauh dalam proyek e-KTP yang telah menyeret saya hingga duduk di kursi pesakitan ini," ujarnya.

Baca juga: Setya Novanto Menangis Saat Membacakan Pleidoi, Ini Penyebabnya

Terakhir, mantan Ketua Umum Golkar itu tetap membantah dirinya mengintervensi anggaran proyek e-KTP, dan menerima aliran dana sebesar USD7,3 juta seperti yang disebut dalam surat dakwaan Jaksa KPK.

"Faktanya, uang tersebut terbukti berpindah tangan ke pihak lain, bukan kepada saya," katanya.

Sebelumnya, Novanto dituntut Jaksa KPK kurungan selama 16 tahun, denda Rp1 miliar dan subsider 6 bulan.

Artinya, Novanto dipandang bersalah bersalah dan melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. 

Share :
Komentar :

Terkait

Read More