Pantau Flash
Marcus/Kevin Perpanjang Rekor Buruk Jumpa Endo/Watanabe
10 Tempat Kerja Terbaik di Singapura, Google Nomor 1
Iwan Bule Sebut Penggawa Timnas U-22 Bisa Bela Tim Senior
Greys/Apri Gagal Lolos ke Semifinal BWF World Tour Finals 2019
Waskita Bantah Kabar di Medsos yang Sebut Tol Layang Japek Meliuk-liuk

Stop Pembakaran Lahan! Ini Pengolahan dengan Mekanisasi dan Teknologi

Stop Pembakaran Lahan! Ini Pengolahan dengan Mekanisasi dan Teknologi Tenaga Ahli Menteri, Kementerian Pertanian, Sam Herodian mengunjungi kampung Desa Eko Wisata di Kecamatan Palas, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau (Foto: Kementan)

Pantau.com - Pakar Khusus Modernisasi Pertanian dari IPB sekaligus Tenaga Ahli Menteri, Kementerian Pertanian, Sam Herodian mengunjungi kampung Desa Eko Wisata di Kecamatan Palas, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau (23 September 2019), bersama dengan Kepala Badan PPSDMP Dedy Nursyamsi, Direktur Alsintan, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, dan anggota tim Kementan lainnya. 

Dalam kunker ini, Sam dan rombongan melihat secara langsung proses olah tanah dengan mekanisasi pertanian dan pembuatan embung untuk irigasi. Kementan mengenalkan teknologi mekanisasi dengan dukungan dekomposer yang mampu bekerja cepat untuk  mengurai tanah, namun tanpa harus melakukan pembakaran hutan.

"Terus terang, pak menteri prihatin dengan karhutla yang terjadi sekarang ini, kemudian minta saya dan temen-teman staf menyiapkan alsintan untuk pencegahan kebakaran di musim kering. Alhamdulilah, mekanisasi dan teknologi dekomposer berjalan efektif karena sangat ramah lingkungan," ujar Sam.

Baca juga: Milenials Kepincut Usaha Ekspor Pertanian? Begini Cara Mengeksekusinya

Menurut Sam, mekanisasi dan teknologi  dekomposer yang dimaksud mampu mengerjakan pembajakan lahan secara terukur. Ini karena pola tanamnya sudah menggunakan piringan dan mesin pencacah tanah. Selanjutnya, proses tersebut dimaksimalkan dengan biokomposer dan benih unggul yang cocok dengan tanah yang digarap.

"Nah, sisa kayu yang ada juga kita berikan Biocat untuk menahan air. Sebab di bagian belakang, kita sudah membangun embung. Intinya adalah, kalau petani disini memiliki semangat, maka kami dari pemerintah pusat juga akan lebih semangat dalam memberikan berbagai bantuan," terangnya.

Sam memastikan jika pola tanam ini berjalan dengan baik, maka ke depan, pemerintah akan mengembangkan program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) untuk membuka lahan sekitar 20 ribu hektare di Propinsi Riau. 

"Insya Allah ke depan alsintan eskavator, drone dan mesin pertanian lain akan dialokasikan di lokasi pertanian  bapak dan ibu para petani disini," katanya.

Baca juga: Lahan Rawa di Sumatera Selatan Disulap, Produksi Padi Meningkat

Sam menambahkan penggunaan alsintan yang diberikan sebagai bantuan dari Kementan, mendapatkan apresiasi Bappenas sebagai pendorong kemajauan ekonomi daerah, setiap peningkatan 1 persen belanja alsintan, mendorong 0,33 persen peningkatan PDB subsektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian di daerah.

Bappenas mengatakan pencetakan lahan baru, penambahan lahan pertanian produktif, peningkatan produksi produk pertanian dan pemanfaatan mekanisasi agar terus dijalankan.

"Ini semua bukan hanya kerja kami dari pemerintah saja, melainkan kerja bapak dan ibu para petani di Provinsi Riau. Makanya ke depan, kita ingin wilayah perbatasan Malaysia dan Singapura ini dibanjiri tanaman pangan kita. Untuk apa, untuk meningkatkan kesejahteraan petani," katanya.

Olah Lahan Menguntungkan Petani

Kepala Badan PPSDMP, Dedy Nursyamsi mengatakan pemerintah meminta penyuluh pertanian terus memberikan edukasi olah lahan tanpa bakar. Manfaat dari pengelolaan lahan tanpa bakar dengan menggunakan mekanisasi dan teknologi dekomposer, menurut Dedy sangat ramah lingkungan, mempertahankan bahan organik tanah dan sejumlah hara tanah serta Mengurangi emisi Gas Rumah Kaca.

Selain itu mekanisasi dan dekomposer, turut juga mempertahankan keanekaragaman hayati, menghindari masalah hukum yang merugikan. Kementan berharap hal ini akan membantu mengurangi  polusi udara akibat kebakaran, kabut asap (haze) yang mengganggu kesehatan, transportasi dan berbagai aktivitas ekonomi, dan Mengurangi risiko kebakaran.

Sementara itu, Petani di Desa Agro Wisata, Awaldi Hasibuan mengaku tertantang dengan masuknya mesin canggih yang diperkenalkan pemerintah pusat. Setidaknya, tantangan itu telah ia buktikan dengan produksi tanaman hortikultura seperti melon, pepaya, cabai, tomat dan sayur mayur.

"Alhamdulillah buahnya bagus, sayurnya juga bagus. Produksi berjalan cepat karena pengolahan tanah sudah menggunakan mesin canggih. Kita tertantang untuk memproduksi lebih banyak lagi," tukasnya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: