Forgot Password Register

Tahun Pemilu Pasar Saham Meningkat Jangan Takut Berinvestasi

Tahun Pemilu Pasar Saham Meningkat Jangan Takut Berinvestasi Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Kepala Ekonom dan Strategi Investasi PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan politik bukan merupakan hal yang ditakuti karena kinerja pasar saham selalu meningkat pada tahun pemilu.

Baca juga: IMF Proyeksikan Ekonomi Asia Tumbuh 5,4 Persen di 2019-2020

"Sebetulnya dari pengalaman yang lalu, pemilu itu bukan suatu faktor untuk ditakuti," katanya dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Katarina mengatakan penyebab kinerja pasar saham yang naik di tahun pemilu adalah penyelenggaraan pemilu yang berjalan aman dan ekspektasi atas program ekonomi.

Ia menjelaskan kinerja pasar saham tiga bulan menjelang penyelenggaraan Pemilu 2004 tumbuh 18 persen dan tiga bulan setelahnya tumbuh 19 persen.

Kinerja pasar saham tiga bulan menjelang pelaksanaan Pemilu 2009 juga tumbuh 40 persen dan tiga bulan setelahnya tumbuh 21 persen.

Namun, kinerja pasar saham tiga bulan menjelang Pemilu 2014 hanya tumbuh dua persen dan tiga bulan setelahnya justru turun satu persen.

Meski demikian, ia meminta pelaku pasar tidak khawatir untuk berinvestasi, apalagi telah terbuka ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga, setelah Bank Sentral AS (The Fed) menghentikan pengetatan kebijakan moneternya.

"Jadi, sebaiknya jangan takut, jangan khawatir, terus lah berinvestasi sesuai tujuan investasi dan profil risiko masing-masing," katanya.

Dalam kesempatan ini, Katarina menambahkan pergerakan rupiah saat berlangsungnya pemilu tidak terlalu stabil seperti bursa saham.

Pada Pemilu 2004 dan 2014, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tertekan, karena kondisi ekonomi global yang diliputi ketidakpastian.

Pergerakan rupiah pada 2004 dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia yang tinggi dan memicu lonjakan inflasi hingga 17 persen.

Sementara itu, perlemahan rupiah pada 2014 terjadi karena The Fed baru menghentikan quantitative easing usai periode taper tantrum.

Baca juga: Indonesia-Rwanda Jaga Sinyal Positif Hubungan Dagang

Namun, penguatan rupiah terjadi pada 2009, dan kondisi serupa juga terjadi pada 2019, yang didukung oleh membaiknya kondisi ekonomi makro.

"Kalau 2004 dan 2005 inflasi tinggi, sekarang inflasi juga sangat rendah, di bawah tiga persen. The Fed juga sekarang akomodatif karena menghentikan pengetatan moneter," ujar Katarina.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More