Forgot Password Register

Tekanan Eksternal Picu Turunnya Kewajiban Investasi Indonesia

Tekanan Eksternal Picu Turunnya Kewajiban Investasi Indonesia Ilustrasi Investasi (Foto:Pixabay)

Pantau.com - Bank Indonesia mencatat kewajiban bersih posisi investasi internasional (PII) di kuartal I 2018 menurun dibanding kuartal IV 2017 karena tekanan eskternal terhadap Indeks Harga Saham Gabungan dan nilai tukar rupiah sepanjang paruh pertama tahun ini.

Kepala Departemen Komunikasi BI Agusman dalam statistik PII mengatakan PII Indonesia memiliki kewajiban bersih 327,9 miliar dolar AS atau setara dengan 31,8 persen terhadap PDB pada triwulan I 2018. Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan triwulan IV 2017 yang sebesar 333,6 miliar dolar AS.

"Kewajiban bersih PII menurun terutama karena berkurangnya posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN)," ujar dia.

Baca juga: Manjakan Jamaah Haji, Kemenag: Tak Perlu Angkut Koper di Hotel

Posisi KFLN Indonesia merosot 0,6 persen (qtq) atau empat miliar dolar AS menjadi 667,2 miliar dolar AS di triwulan I 2018 karena turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan juga pengaruh dari tekanan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

Menurunnya IHSG berimbas kepada melorotnya nilai investasi instrumen berdenominasi rupiah yang pada akhirnya berdampak pada turunnya kewajiban finansial luar negeri Indonesia.

Sejalan dengan menurunnya kewajiban bersih PII, Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) Indonesia telah naik 0,5 persen (qtq) atau 1,7 miliar dolar AS menjadi 339,3 miliar dolar AS. Perolehan aset finansial di luar negeri disumbang dari investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya.

Baca juga: Pelonggaran Kebijakan DP Rumah Diprediksi Tingkatkan Bisnis Properti

Selain itu, kenaikan posisi meningkatnya aset finansial Indonesia di luar negeri juga karena apresiasi terhadap aset mata uang lainnya selain dolar AS. Pasalnya di triwulan I 2018, dolar AS melemah terhadap beberapa mata uang negara lain.

"BI memandang perkembangan PII Indonesia pada triwulan I 2018 masih tetap sehat. Meski demikian, BI tetap mewaspadai risiko net kewajiban PII terhadap perekonomian," ujar Agusman.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More