Pantau Flash
Indonesia Buka Kantor Konsul Kehormatan Pertama di St Christopher dan Navis
Kapten Persija Akui Perubahan Pelatih Pengaruhi Performa Tim
Ada UU Pangan, Pengusaha Tekstil Pertanyakan Kapan Kemunculan UU Sandang
Di Tengah Krisis Boeing, Airbus Malah Tingkatkan Kerja Sama di China
Lebanon Bebaskan Satu Orang yang Dituduh Ingin Ledakkan Bandara Sydney

Tenang, Pasien Penyakit Ginjal Bisa Lakukan Terapi Ini

Tenang, Pasien Penyakit Ginjal Bisa Lakukan Terapi Ini Ilustrasi ginjal. (Foto: Connectnigeria)

Pantau.com - Penyakit ginjal bisa berkembang menjadi gagal ginjal apabila tidak tertangani. Lalu terapi apa yang bisa pasien jalani?

Dokter spesialis ginjal dari PERNEFRI, dr. Aida Lydia, PhD., SpPD-KGH mengatakan ada tiga pilihan terapi yang bisa pasien tempuh, yakni peritoneal dialysis atau continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), transplantasi ginjal dan hemodialisis.

Layanan terapi CAPD baru 2 persen terakses masyarakat, jauh lebih sedikit dibandingkan dua terapi lain. Salah satu alasannya ialah kurangnya tenaga perawat berdedikasi.

"Pelayanan ini harus punya sarana dan prasarana. Dari segi SDM harus ada perawat dedicated. Ini belum cukup. Pasien juga harus mandiri, mengganti cairan empat kali. Ini harus dilatih cukup. Kendala lain dari segi distribusi cairan," papar Aida di Jakarta, Rabu, 13 Maret 2019.

Baca juga: Sulit Dideteksi, Penting untuk Tahu Faktor Penyebab Penyakit Ginjal

Dia mengatakan, ketimbang CAPD, pasien penyakit ginjal lebih banyak memilih hemodialisis. Data Indonesia Renal Registry (IRR) tahun 2017 menunjukkan jumlah pasien aktif yang menjalani hemodialisis yakni 77.892 orang.

Kendati begitu, tak berarti pasien hanya bisa ditangani melalui satu jenis terapi. Pasien bisa pindah dari satu terapi ke terapi lain tergantung kondisinya.

Misalnya, bila pada awalnya pasien menjalani hemodialisis namun ada indikasi hemodialisisnya tidak berjalan baik karena fungsi jantung, pasien ini bisa pindah menggunakan terapi CAPD.

"Dan sebaliknya pasien CAPD kalau terjadi misalnya komplikasi seperti infeksi berat, pasien bisa dipindahkan ke hemodialisis," kata Aida.

Baca juga: Benarkah Terlalu Banyak Konsumsi Obat Kimia Bisa Merusak Ginjal?

Penyakit ginjal pada awalnya tidak menunjukkan gejala khas sehingga sering terlambat diketahui. Namun ada sejumlah tanda yang dicurigai antara lain tekanan darah tinggi, perubahan frekuensi buang air kecil dalam sehari, adanya darah dalam urin, mual, muntah dan bengkak terutama pada kaki dan pergelangan kaki.

Apabila sakit ginjal sudah berlangsung lebih dari tiga bulan, maka termasuk kategori kronik dan ini merupakan faktor risiko munculnya penyakit jantung dan pembuluh darah.

Tanda penyakit ginjal sudah kronik juga bisa terlihat dari adanya protein di urin (setelah pemeriksaan urin), peningkatan kreatinin darah dan ada kelainan dalam pemeriksaan histopatologi.

"Angka kematian pasien penyakit ginjal kronik tinggi. Ini dikaitkan dengan penyakit jantung yang tinggi, gagal ginjal yang tinggi," kata Aida.

Share this Post:
Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Rifeni
Category
Ragam

Berita Terkait: