Forgot Password Register

Terkait Kasus Suap Sukamiskin, Adik Inneke Koesherawati Diperiksa KPK

Terkait Kasus Suap Sukamiskin, Adik Inneke Koesherawati Diperiksa KPK Adik Inneke Koesherawati, Ike Rahmawati diperiksa KPK (Foto: Antara/Hafidz Mubarak)

Pantau.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Ike Rahmawati adik dari artis Inneke Koesherawati dalam kasus suap kepada penyelenggara negara terkait pemberian fasilitas, perizinan ataupun pemberian lainnya di Lapas Kelas 1 Sukamiskin Bandung.

Ike yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Wahid Husein (WH) yang merupakan mantan Kalapas Sukamiskin.

"Untuk konfirmasi saja sebenarnya, untuk saksi saja kok," kata Ike usai diperiksa di gedung KPK, Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Selain Wahid, KPK juga telah menetapkan tiga tersangka lainnya, yaitu Hendry Saputra (HND) yang merupakan staf Wahid Husein, narapidana kasus korupsi Fahmi Darmawansyah (FD) yang juga suami dari Inneke, dan Andri Rahmat (AR) yang merupakan narapidana kasus pidana umum/tahanan pendamping (tamping) dari Fahmi Darmawansyah.

Namun, Ike enggan menjelaskan lebih lanjut apakah dirinya juga dikonfirmasi soal pembelian mobil yang diduga suap kepada Wahid dari Fahmi dalam kasus tersebut.

"Tidak sih cuma ditanya sedikit saja kok, bukan untuk masalah Pak Fahmi," ucap Ike.

Baca juga: KPK Duga Fahmi Arahkan Inneke Beli Mobil untuk Kalapas Sukamiskin

Dalam penyidikan kasus itu, KPK sedang mendalami arahan tersangka Fahmi dalam pemesanan dan pembelian mobil yang kemudian diberikan sebagai suap Wahid Husein. KPK pun pada Selasa, 24 Juli 2018 lalu juga telah memeriksa Inneke.

"Pada saksi Inneke diperdalam informasi tentang arahan tersangka Fahmi Darmawansyah terkait dengan pemesanan dan pembelian mobil yang kemudian diberikan pada tersangka Wahid Husein," kata Febri di Jakarta, Selasa (24/7).

Dalam kegiatan operasi tangkap tangan (OTT) terkait kasus itu, KPK mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga terkait tindak pidana, yaitu dua unit mobil masing-masing satu unit Mitsubishi Triton Exceed warna hitam dan satu unit Mitsubishi Pajero Sport Dakkar warna hitam.

Diketahui, mobil yang dipesan oleh Fahmi Darmawansyah dan kemudian diberikan kepada Wahid Husein adalah Mistubishi Triton Exceed warna hitam.

Diduga sebagai penerima dalam kasus itu, yakni Wahid Husein dan Hendry Saputra. Sedangkan diduga sebagai pemberi, yakni Fahmi Darmawansyah dan Andri Rahmat.

KPK menduga Wahid Husein menerima pemberian berupa uang dan dua mobil dalam jabatannya sebagai Kalapas Sukamiskin sejak Maret 2018 terkait pemberian fasilitas, izin, luar biasa, dan lainnya yang tidak seharusnya kepada narapidana tertentu.

Pemberian dari Fahmi tersebut terkait fasilitas sel atau kamar yang dinikmati oleh Fahmi dan kemudahan baginya untuk dapat keluar masuk tahanan.

Penerimaan-penerimaan tersebut diduga dibantu dan diperantarai oleh orang dekat keduanya, yakni Hendry Saputra dan Andri Rahmat.

Dalam kegiatan OTT, KPK juga mengamankan uang total Rp279.920.000 dan 1.410 dolar AS, catatan penerimaan uang, dan dokumen terkait pembelian dan pengiriman mobil.

Baca juga: KPK Akan Dalami Peran Inneke Koesherawati dalam Kasus Suap Kalapas Sukamiskin

Dalam konferensi pers pengumuman tersangka pada Sabtu, 21 Juli 2018, KPK juga menampilkan video yang menunjukkan sel atau kamar di Lapas Sukamiskin dari Fahmi.

Dalam kamar Fahmi terlihat berbagai fasilitas laiknya di apartemen seperti pendingin udara (AC), televisi, rak buku, lemari, wastafel, kamar mandi lengkap dengan toilet duduk dan water heater, kulkas, dan spring bed.

Sebelumnya, Fahmi yang merupakan Direktur PT Merial Esa telah dieksekusi ke Lapas Sukamiskin pada 31 Mei 2017 lalu.

Berdasarkan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Fahmi divonis dua tahun delapan bulan penjara ditambah denda Rp150 juta subsider tiga bulan kurungan.

Fahmi terbukti menyuap empat orang pejabat Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI senilai 309.500 dolar Singapura, 88.500 dolar AS, 10 ribu euro, dan Rp120 juta.

Sebagai pihak yang diduga penerima Wahid Husein dan Hendry Saputra disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sedangkan sebagai pihak yang diduga pemberi Fahmi Darmawansyah dan Andri Rahmat disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More