Forgot Password Register

Tinggalkan Juventus, Ini Kisah Berkesan Gianluigi Buffon

Gianluigi Buffon. (Foto: Reuters/Massimo Pinca) Gianluigi Buffon. (Foto: Reuters/Massimo Pinca)

Pantau.com - Kiper sekaligus kapten Juventus, Gianluigi Buffon, memiliki kisah yang bisa dijadikan pelajaran bagi pemain profesional. Betapa tidak, melihat sepak terjangnya bersama klub asal Turin itu di musim 2006/2007 sangat luar biasa.

Juventus harus bermain di Serie B akibat terkena skandal Calciopoli. Namun, seorang Buffon memilih untuk bertahan dan merasakan persaingan di kompetisi kelas dua Negeri Pizza.

Pada musim itu, Buffon berada di puncak karier dengan keluar sebagai juara dunia usai mengantarkan Italia menang Piala Dunia 2006. Bahkan dirinya menjadi kandidat Ballon d'Or. Sosok yang kini berusia 40 tahun itu, mengenang perjalanan karirnya yang begitu luar biasa.



“Saya harus menunjukkan kalau seorang pemain memiliki perasaan dan ada yang lebih penting daripada popularitas dan uang. Saya ingin melakukannya lagi. Saya memutuskan bermain di Serie B, senang melakukannya karena saya pikir beberapa pemain memiliki kesempatan untuk memberikan olahraga harapan dari sebuah keputusan," ujar Buffon seperti dikutip dari Players Tribune, Kamis (17/5/2018).

Memang Buffon tak sendiri, kala itu ia bersama Alessandro Del Piero, Pavel Nedved, Mauro Camoranesi, dan Giorgio Chiellini bahu membahu mengangkat Juve untuk bisa bermain di puncak tertinggi. Hasilnya, Juve sukses keluar sebagai juara Serie B, dan hasrat untuk mencapai puncak masih membutuhkan jalan yang panjang.

Baca juga: Buffon Pensiun, Del Piero: Ia Layak seperti yang Saya Dapatkan

Di era kepelatihan Claudio Ranieri musim 2007/2008, Juve finis ke posisi ketiga. Itu menjadi peluang bagi mereka untuk bisa kembali bermain ke Liga Champions. Dalam persaingan yang keras, Bianconeri terus berupaya menjadi penantang gelar, hasilnya mereka harus puas keluar sebagai runner-up (2008/2009).

Angin kencang menerpa Juve ketika dilatih oleh Ciro Ferrara. Mantan bek Juventus itu hanya mampu membawa timnya finis di urutan ketujuh. Begitu juga dengan Alberto Zaccharoni yang tak bisa berbuat banyak sebagai pengganti Ferrara. Berbagai cobaan terus melanda tim berjuluk 'Kekasih Italia' tersebut. Tercatat selama dua musim berturut-turut, Juve finis di urutan ketujuh di era kepelatihan Luigi Del Neri.

Harapan kemudian datang saat Antonio Conte merubah mental Gianluigi Buffon dan kawan-kawan di musim 2011/2012. Mereka sukses meraih Scudetto, hingga berganti pelatih ke Massimiliano Allegri pun Juve tetap mempertahankan mahkota juara selama tujuh musim. Dari pengalaman yang ia lalui, Buffon memang sempat dihantui pertanyaan mengapa dirinya tetap bertahan dalam situasi sulit, tapi ia yakin dalam kesulitan akan mendapatkan sebuah hasil nyata.   

Baca juga: Buffon Pensiun? Nedved: Kami Kehilangan Sosok Besar di Sepakbola

“Kami memenangkan Serie B. Itu adalah tahun yang menyenangkan. Dan setelah dua tahun menjalani dengan baik dan menjadi yang kedua, kemudian di musim ketiga datang kami mengalami hal yang yang sangat buruk, Juventus tidak bisa dikenali. Kami kehilangan semangat kami, identitas kami, etos kerja kami," papar Buffon.

"Beberapa tahun kami selesai di urutan keenam atau ketujuh, dan saya akan berkata kepada diri sendiri, 'Mengapa saya memilih ini?' Tetapi saya mengatakan itu dengan tenang, karena saya biasanya orang yang positif, optimis. Saya yakin bahwa kerja keras dan perilaku yang baik selalu berhasil. Saya selalu berkata demikian," urainya.

Kini Buffon tengah berada di ujung karirnya, di mana kontrak bersama Juventus berakhir. Ia akan mengangkat trofi Scudetto di laga terakhir Juve kontra Hellas Verona pada Minggu 20 Mei 2018.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More