Forgot Password Register

Usai Banjir Parah, Jepang Dihadapkan Soal Cuaca Ekstrem dan Kelangkaan Air

Usai Banjir Parah, Jepang Dihadapkan Soal Cuaca Ekstrem dan Kelangkaan Air Penampakan tempat pengungsian banjir Jepang. (Foto: Reuters/Issei Kato)

Pantau.com - Jepang terancam menghadapi lebih banyak cuaca ekstrim dan harus merencanakan cara menghadapi bencana.

Setidaknya, cuaca sangat panas dan kelangkaan air menjadi pekerjaan rumah yang harus dihadapi pemerintahan Negeri Matahari Terbit itu.

"Ini adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa bencana ini disebabkan oleh hujan sangat deras yang lebih sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir," kata Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga dalam konferensi pers di Tokyo, Kamis (12/7/2018).

Hujan deras di kawasan barat Jepang menyebabkan bencana cuaca terburuk di negara tersebut sepanjang 36 tahun belakangan dan menewaskan sedikit-dikitnya 200 orang.

 "Kami mengakui bahwa ada kebutuhan untuk mencari cara agar kami bisa mengarangi kerusakan akibat bencana seperti ini, sekecil apapun itu," kata dia.

Baca juga: 141 Orang Tewas Akibat Banjir Terparah di Jepang Selama Beberapa Dekade

Namun, ia tidak menjabarkan dengan lebih rinci apa langkah yang akan diambil oleh pemerintah.

Lebih dari 200.000 rumah Jepang pada pekan ini tidak mempunyai akses terhadap air bersih setelah bencana banjir melanda. Sementara itu ribuan orang harus kehilangan rumah.

Dengan temperatur udara mencapai 31 sampai 34 derajat Celcius dengan kelembapan tinggi, kehidupan di sekolah-sekolah dan tempat penampungan evakuasi mulai alami kesulitan.

Baca juga: 112 Orang Tewas Akibat Banjir di Jepang, 78 Hilang

Pemerintah telah mengirim truk air, namun masih terbatas. "Tanpa air, kami tidak bisa membersihkan apapun. Kami tidak bisa mencuci apapun," kata seorang pria kepada stasiun televisi NHK.

Perdana Menteri Shinzo Abe mengunjungi Kurashiki, dan menjanjikan bantuan secepat mungkin. Dia juga berencana mengunjungi dua wilayah bencana lain pada Jumat dan akhir pekan.

Lebih dari 70.000 petugas gabungan militer, polisi, dan pemadam kebakaran mencari korban di antara reruntuhan bangunan.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More