Forgot Password Register

Headlines

Viral! Kampus Kedokteran Jepang Curangi Perempuan Selama 1 Dekade

Viral! Kampus Kedokteran Jepang Curangi Perempuan Selama 1 Dekade Ilustrasi dokter perempuan. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Sebuah sekolah kedokteran Tokyo telah melakukan kebohongan publik dengan mengubah skor ujian masuk selama lebih dari satu dekade untuk membatasi jumlah siswa perempuan dan memastikan lebih banyak pria menjadi dokter.

Mengutip The Guardian, Rabu (8/8/2018), Tokyo Medical University memanipulasi semua hasil ujian masuk mulai tahun 2006.

"Kami dengan tulus meminta maaf atas kesalahan serius yang melibatkan ujian masuk yang telah menyebabkan kekhawatiran dan masalah bagi banyak orang dan mengkhianati kepercayaan publik," kata direktur pengelola sekolah Tetsuo Yukioka.

"Saya menduga bahwa ada kurangnya kepekaan terhadap aturan masyarakat modern, di mana perempuan seharusnya tidak diperlakukan berbeda karena gender mereka."

Baca juga: Konyol! Jet Tempur Spanyol Tak Sengaja Tembakkan Rudal Ganas Saat Latihan NATO

Manipulasi itu terungkap selama penyelidikan atas dugaan kecurangan soal kelulusan mahasiswa masuk seorang anak birokrat pendidikan kementerian. Birokrat kampus dan mantan kepala sekolah telah dituduh melakukan suap.

Untuk diketahui, penyelidikan menemukan bahwa dalam ujian masuk tahun ini sekolah mengurangi semua nilai ujian tahap pertama pelamar perempuan sebesar 20 persen dan kemudian menambahkan setidaknya 20 poin untuk pelamar laki-laki, kecuali mereka yang sebelumnya telah gagal dalam tes setidaknya empat kali.

Manipulasi serupa telah terjadi selama bertahun-tahun karena sekolah menginginkan lebih sedikit dokter perempuan. Pasalnya, dokter perempuan akan berhenti ketika sudah memilki anak.

Putra pejabat kementerian pendidikan, yang telah gagal ujian tiga kali, diberi total 20 poin tambahan. Penyelidikan juga menunjukkan bahwa mantan direktur sekolah itu mengambil uang dari beberapa orang tua untuk diberikan perlakuan istimewa.

Baca juga: Wow, Hollywood Bakal Hapus Bintang Donald Trump di Walk of Fame?

Seorang pengacara Kenji Nakai mengatakan, laporan itu hanya mencakup hasil ujian terbaru karena keterbatasan waktu, dan penyelidikan lebih lanjut diperlukan.

Untuk diketahui, hampir 50 persen wanita Jepang berpendidikan perguruan tinggi -salah satu tingkat tertinggi di dunia- tetapi mereka sering menghadapi diskriminasi di dunia kerja.

Perempuan juga dianggap bertanggung jawab atas atas rumah tangga pengasuhan anak dan perawatan lansia, sementara laki-laki diharapkan bekerja berjam-jam.

Menteri pendidikan Yoshimasa Hayashi mengatakan kepada wartawan bahwa dia berencana untuk memeriksa prosedur masuk semua sekolah kedokteran.

Menteri Kesetaraan Gender Seiko Noda dikutip oleh Kyodo News mengatakan, sangat disesalkan jika sekolah-sekolah medis berbagi pandangan bahwa memiliki dokter perempuan bekerja di rumah sakit akan merepotkan.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More