Forgot Password Register

Waduh! Mendag Tuding Kenaikan Harga Telur Gara-gara Piala Dunia Rusia

Waduh! Mendag Tuding Kenaikan Harga Telur Gara-gara Piala Dunia Rusia Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (ketiga dari kiri) (Foto:Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Harga telur ayam pasca hari raya Idul Fitri masih tinggi. Harga di pasaran bahkan mencapai Rp32.000 perkilogram. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan tingginya harga telur disebabkan faktor suplai dan demand. Ia menduga penghentian penggunaan antibiotik beresiko kematian.

"Banyak faktor yang bisa mempengaruhi, berbicara mengenai tingkat produktivitas ayam itu sendiri atas telornya macam-macam akibatnya, ini juga dilakukan penelitian mulai dari dinas sampai kementerian kita sepakat mengurangi kadar obat-obatan terutama antibiotik tapi beresiko tingkat kematian," ujarnya saat jumpa pers di kantornya, Jl. Ridwan Rais, Jakarta Pusat, Senin (16/7/2018).

Selain itu lanjut Enggar, faktor cuaca ekstrim juga dinilainya berpengaruh pada produktivitas ayam.

"Ada juga cuaca ekstrim, seperti kita bisa saksikan di Dieng sedikit bersalju, Dieng dan sebagainya," paparnya.

Baca juga: Update Kenaikan Harga Telur Ayam yang Cetak Rekor

Selain itu, dari sisi suplai ke pasar menurutnya sempat terhambat dari para peternak yang libur menetaskan telur sehingga kurangnya ayam yang mengasilkan telur.

Pasalnya pekerja banyak yang libur sedangkan bila memutuskan untuk menetaskan ayam butuh pegawai untuk merawat ayam petelur (layer). Hal ini diindikasikan menjadi penyebab kurangnya suplai.

"Kemudian dari sisi suplai ke pasarnya sampai ke konsumen itu terjadi pengurangan yang di akibatkan masa libur yang panjang, ternyata mereka yang bekerja di peternakan juga mau cuti, faktor ini terakumulasi sehingga pendistribusian terganggu," ungkapnya.

Meski begitu ia menilai penyebab dari sisi produksi bukan yang utama. Sebab menurut Enggar, hal ini sudah diantisipasi oleh Kementerian Pertanian.

"Sisi produksi bukan topik utama, karena beberapa kali sudah dilakukan Kementan. Tapi dari sisi harga itulah yang kami risaukan," ungkapnya.

Baca juga: Nggak Heran Tukang Bubur Bisa Naik Haji, Ini Omset Perbulannya

Enggar juga menduga faktor permintaan yang tinggi salah satunya karena adanya gelaran piala dunia. Banyak orang yang beraktivitas di malam hari dan mengkonsumsi makanan yang menggunakan telur.

"Alasannya macam-macam demand peningkatan tajam, sampai sepak bola. Karena yang malam (nonton sepakbola) makan nasi goreng pake telur (atau) 'Internet': Indomie telor kornet kan pakai telur," paparnya. 

Lebih lanjut Enggar juga mengatakan adanya potensi pedagang yang berusaha memanfaatkan momentum dari harga yang tinggi. Salah satunya dengan menjual dengan harga tinggi saat suplai demand mulai lancar. 

"Disini ada potensi menikmati margin keuntungan dari pedangang, kalau ada turun harga tetap, dia masih cari untung," pungkasnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More