Forgot Password Register

Wow! Indonesia Dibanjiri Modal Asing, Dalam Dua Pekan Rp10,72 Triliun Masuk ke Indonesia

Wow! Indonesia Dibanjiri Modal Asing, Dalam Dua Pekan Rp10,72 Triliun Masuk ke Indonesia Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI. (Foto: Antara/Sigid Kurniawan)

Pantau.com  Indonesia dibanjiri modal asing. Modal asing yang masuk ke Indonesia melalui saham dan Surat Berharga Negara (SBN) di dua pekan pertama April 2018 nilainya, tercatat mencapai sebesar USD800 juta, setara Rp10,72 triliun (1USD=Rp13.400, kurs Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2018). 

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Dody Budi Waluyo menyampaikan kepercayaan investor untuk masuk ke portoflio domestik meningkat. Salah satunya, dipicu kenaikan peringkat utang Indonesia dari lembaga pemeringkat internasional Moody's Investor Service menjadi baa2/outlook stable dari baa3/outlook stable.

"Selain itu, ini juga dampak dari Surat Utang Negara juga masuk ke dalam Global Bond Index. Ini memberikan gambaran bahwa investor asing memberikan keyakinan kepada Indonesia," ujar Dody pada Kamis malam (19/4/2018).

Baca juga: Cuti Lebaran Ditambah, Ini Pengaruhnya untuk Kegiatan Ekonomi

Meski demikian, Dody menilai, tekanan ekonomi eskternal juga meningkat. Tekanan tersebut, bersumber dari peningkatan ketidakpastian pasar keuangan dunia menyusul rencana kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (Bank Sentral Amerika), untuk kedua kalinya di Juni 2018, kenaikan harga minyak, dan kemungkinan berlanjutnya perang dagang Amerika-China.

"Sejumlah risiko global tetap perlu diwaspadai karena dapat mengganggu perekonomian domestik,"lanjutnya.

Baca juga: Ketua DPR: Pemerintah Perlu Atur Pajak Online Asing

Derasnya arus modal masuk, juga membuat BI yakin cadangan devisa Indonesia tidak akan tergerus terlalu dalam untuk mejaga nilai tukar rupiah. Cadangan devisa Indonesia akhir Maret 2018, sebesar USD126 miliar, setara Rp1.688 triliun.

Ia menilai, tekanan eksternal yang cukup kencang akan datang sepanjang Mei 2018, menjelang perkiraan kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve pada Juni 2018 dan dinamika perang dagang Amerika dan China.

Baca juga: Duh! Reli Pelemahan Rupiah Kembali Berlanjut

"Nilai tukar ke depan ada tekanan, sama dengan di kawasan. Tidak bisa lepas dari pergerakan mata uang dunia. BI akan terus jaga di pasar. Stabilisasi melalui pasar valas dan surat utang akan terus dilakukan," ujar Dody.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More