Pantau Flash
BNPB: Kualitas Udara di Sumsel, Jambi, dan Riau Sangat Tidak Sehat
F1 Bakal Digelar di Miami pada Musim 2021
OJK: Kehadiran Palapa Ring Bisa Percepat Industri Fintech di Indonesia
Kementan Dorong Kawasan Perbatasan Jadi Lumbung Beras dan Ekspor
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Warga Panik Luar Biasa

Yang Doyan Pedas, Ada Cabai Pelangi dari IPB Nih.....

Yang Doyan Pedas, Ada Cabai Pelangi dari IPB Nih..... Cabai pelangi ini memiliki degradasi warna berbeda yang cocok untuk menjadi tanaman hias dan memiliki tingkat kepedasan di atas cabai pada umumnya (Foto: Dok ipb)

Pantau.com - Sobat Pantau, warna pelangi enggak cuma kalian lihat di kue atau puding. Sekarang juga ada lho cabai warna-warni. Iya buka cuma hijau dan merah saja, cabai hasil temuan dari Muhammad Syukur dari Divisi Genetika dan Pemuliaan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura,  Institut Pertanian Bogor (IPB).

Hasil cabai yang dihasilkan tak hanya merah dan hijau, tanaman ini berwarna-warni layaknya pelangi. Orang-orang menamainya Cabai Pelangi. Tanaman tersebut memiliki warna cabai yang berbeda-beda, sehingga terlihat cantik bak pelangi. 

Jangan anggap remeh, rupanya tingkat kepedasan cabai ini di atas cabai pada umumnya. Muhammad Syukur menjelaskan, cabai pelangi ini memiliki degradasi warna berbeda yang cocok untuk menjadi tanaman hias dan memiliki tingkat kepedasan di atas cabai pada umumnya.

"Cabai ini bagus untuk dikonsunsi, juga bisa jadi hiasan di rumah. Ini hasil kawin silang genetika," kata pria yang bergelar Profesor ini.

Baca juga: Mentan Klaim Teknologi Bantu Wujudkan Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045

Dalam laman resmi IPB dijelaskna bahwa varietas cabai ini merupakan Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman Departemen Agronomi IPB sejak 2003. Dari penelitian tersebut telah dilepas dan didaftarkan di Kementerian Pertanian sebanyak 23 varietas cabai besar, cabai semikeriting, cabai keriting dan cabai hias serta tomat.

"Untuk cabai hias ini ada enam varietas yaitu, cabe Syakira, cabe Lembayung, cabai Jelita, cabai Namira, cabai Ayesa dan cabai Ungara. Masing-masing cabai memiliki ciri berbeda tapi satu spesies yakni Capsicum Annuum yang umum dikonsumsi di Indonesia," jelasnya.

Untuk cabai Syakira, memiliki ciri- ciri dengan buah awal berwarna kuning kemudian hijau dan terakhir berwarna merah. Cabai Jelita, pohonnya lebih rimbun dan pendek dan memiliki degradasi yang sama dengan cabai Syakira.

Cabai Namira dapat dilihat dari buahnya yang menumpuk pada batang berbeda dengan cabai lainnya. Cabai Ayesa memiliki buah yang cenderung bulat dan berwarna ungu. Sedangkan cabai Lembayung dan cabai Ungara memiliki ciri cabai sedikit membulat dan berwarna ungu pekat.

"Untuk varietas cabai hias ini memiliki tingkat kepedasan sekitar 1000 ppm. Jauh berbeda dengan cabai pada umumnya yang hanya 200 ppm. Kalau yang paling pedas ini cabai Ungara, bisa sampai 1600 ppm," paparnya.

Baca juga: Begini Catatan Para Menteri Pertanian Era Soeharto hingga SBY

Untuk  perawatannya sendiri, cabai ini tidak sesulit sama seperti cabai biasa. Tanaman ini mampu ditanam pada suhu ruangan berbeda dengan cabai lain yang harus ditanam di ruangan terbuka melakui media tanam pot dan tidak memerlukan sinar matahari langsung.

"Jelas varietas ini lebih mudah, menanamnya bisa menggunakan media tanam, kemudian menggunakan abemix lalu disiramkan 2 kali dalam seminggu. Ini langsung bisa panen antara tiga hingga enam bulan,” ungkapnya.

Saat ini, cabai tersebut sudah dipasarkan di seluruh Indonesia namun hanya berbasis online dan toko pertanian saja. Untuk ke depannya, ia akan terus melakukan temuan varietas baru terutama sayuran yang diharapkan mendukung ketahanan pangan keluarga.

"Saya akan terus coba kembangan varietas sayuran baru diharapkan mampu menjadi ketahanan pangan keluaraga dan membantu para petani berinovasi dan kita dapat berbagai pengetahuan tentang tanaman sayuran ini kepada para petani," lanjutnya. 

Cabai Pelangi  memiliki keunggulan, mudah ditanam, tidak memerlukan sinar matahari langsung, bisa ditanam pada suhu ruangan berbeda (aman dipindah-pindahkan ke tempat yang berbeda suhunya), bisa dipanen tiga hingga enam bulan dan memiliki tingkat kepedasan antara 1000-1600 ppm.

Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: