
Pantau - Tradisi ziarah kubur usai Shalat Id di Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi rakyat serta memperkuat nilai sosial di tengah masyarakat.
Aktivitas ziarah yang dilakukan ribuan warga ke pemakaman umum menciptakan peluang ekonomi musiman bagi pedagang dan pekerja sektor informal.
Momentum Lebaran 2026 bahkan meningkatkan pendapatan pedagang bunga rampai hingga tiga sampai empat kali lipat dibanding hari biasa.
Ziarah Kubur Hidupkan Ekonomi Musiman
Pedagang bunga rampai menjadi salah satu pihak yang merasakan langsung dampak peningkatan aktivitas ziarah.
Mereka tetap menjaga harga jual agar terjangkau dengan menyesuaikan volume produk di tengah kenaikan harga bahan baku.
Selain itu, muncul pula usaha spontan seperti penjualan air bersih dalam botol bekas untuk memenuhi kebutuhan peziarah.
Profesi juru parkir dadakan juga mengalami lonjakan pendapatan, bahkan bisa mencapai lebih dari Rp100 ribu per hari di sejumlah lokasi pemakaman.
Fenomena ini menunjukkan fleksibilitas ekonomi rakyat dalam merespons peluang selama momentum Lebaran.
Lebaran Perkuat Solidaritas dan Nilai Fitrah
Selain dampak ekonomi, Idul Fitri juga memperkuat nilai sosial melalui tradisi saling memaafkan dan kebersamaan.
Shalat Id yang mempertemukan masyarakat tanpa sekat status menjadi simbol kesetaraan dalam kehidupan sosial.
Tradisi halal bihalal dan kunjungan keluarga turut memperkuat hubungan sosial di masyarakat yang majemuk.
Nilai solidaritas juga tercermin dari kebijakan pemberian remisi kepada ribuan warga binaan di NTB sebagai bentuk kesempatan kedua.
Momentum Lebaran menjadi ruang yang menggabungkan nilai spiritual, sosial, dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Tria Dianti







