HOME  ⁄  Ekonomi

Perajin Besek Magetan Bertahan Lewat Inovasi, Permintaan Terus Meningkat

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Perajin Besek Magetan Bertahan Lewat Inovasi, Permintaan Terus Meningkat
Foto: (Sumber: Perajin besek dari bambu di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur tetap bertahan dan diminati dengan terus berkreasi mengikuti permintaan pasar. ANTARA/HO-Diskominfo Kab Magetan.)

Pantau - Perajin besek bambu di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan tetap bertahan dengan mengikuti perkembangan permintaan pasar melalui inovasi bentuk dan warna produk.

Produk besek bambu masih diminati karena terus mengalami perkembangan desain.

"Mayoritas di sini memang membuat besek. Dulu, bentuknya sederhana, kotak polos dan tanpa variasi. Namun seiring waktu, para perajin berinovasi dengan menciptakan berbagai bentuk dan warna," ujar Mbak Indah.

Kerajinan besek telah menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat selama puluhan tahun dan diwariskan secara turun-temurun.

Saat pandemi COVID-19, permintaan justru meningkat karena besek digunakan sebagai wadah makanan.

"Waktu pandemi COVID-19 melanda, pesanan malah ramai. Dari situlah, inovasi mulai tumbuh," katanya.

Desain besek kini lebih variatif dengan tambahan pegangan, warna cerah, dan model jinjing.

Perajin juga mengikuti desain sesuai permintaan konsumen dari berbagai referensi.

"Ada juga atas permintaan konsumen dari lihat di gambar. Dari situ, Kita ya belajar juga," ujarnya.

Saat ini terdapat lebih dari tujuh desain besek dengan tingkat kesulitan berbeda.

Harga besek bervariasi mulai dari Rp4.000 untuk ukuran kecil hingga Rp20.000 untuk ukuran besar atau desain khusus.

Produksi harian mencapai puluhan unit tergantung jenis dan tingkat kesulitan.

"Warna dan model bisa disesuaikan dengan permintaan pembeli, dari merah, hijau, hingga kombinasi warna-warni yang menarik," kata Mbak Indah.

Perajin juga menampung hasil produksi warga sekitar untuk dipasarkan.

Pemasaran dilakukan secara langsung maupun melalui platform daring, dengan jangkauan hingga luar daerah.

Bahan baku bambu relatif mudah diperoleh baik dengan membeli maupun mengambil dari lingkungan sekitar.

Ketersediaan bahan menjadi faktor penting dalam keberlangsungan usaha.

Pengurangan penggunaan plastik turut meningkatkan permintaan terhadap produk anyaman bambu.

Kabupaten Magetan dikenal sebagai sentra industri anyaman bambu dengan sekitar 5.700 pelaku usaha.

Industri ini berkontribusi sekitar 85,69 persen terhadap perekonomian daerah.

Beberapa desa yang menjadi pusat kerajinan antara lain Desa Ringinagung, Desa Nitikan, dan Desa Durenan.

Penulis :
Gerry Eka
Editor :
Tria Dianti