HOME  ⁄  Ekonomi

Pemprov Bali Perkuat UMKM Hijau untuk Atasi Permodalan, SDM, dan Akses Pasar

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Pemprov Bali Perkuat UMKM Hijau untuk Atasi Permodalan, SDM, dan Akses Pasar
Foto: Kepala Diskop UKM Bali Tri Arya Dhyana Kubontubuh menjelaskan program Inkubasi Hijau untuk UMKM di Denpasar, Bali, Kamis (7/5/2026). (sumber: ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari)

Pantau - Pemerintah Provinsi Bali menangani tiga persoalan utama yang dihadapi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program Inkubasi Hilirisasi Inovasi Jejaring Usaha Berkelanjutan (Hijau).

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bali, Tri Arya Dhyana Kubontubuh, mengatakan persoalan utama UMKM meliputi permodalan, sumber daya manusia, serta produk dan akses pemasaran.

"Banyak permasalahan yang dihadapi UMKM, secara garis besar ada tiga, pertama adalah permodalan, yang kedua adalah SDM-nya, kemudian yang ketiga tentu dari produknya atau akses pemasarannya, tiga hal ini yang kami coba minimalkan di program Inkubasi Hijau," ungkapnya.

Ia menyebut saat ini terdapat 448.734 UMKM di Bali dengan persoalan yang hampir serupa.

Melalui program inkubasi tersebut, para pelaku UMKM dibina hingga dipertemukan dengan mitra strategis untuk memperkuat pengembangan usaha mereka.

Seleksi UMKM Hijau Dilakukan Bertahap

Diskop UKM Bali menjalankan program Inkubasi Hijau dengan menyeleksi UMKM yang tidak hanya menjalankan usaha ekonomi, tetapi juga memperhatikan pelestarian lingkungan.

Program tersebut disesuaikan dengan fokus pemerintah daerah yang saat ini mendorong konsep ekonomi hijau dan usaha berkelanjutan.

Setelah diklasifikasikan sesuai tema inkubasi, sebanyak 60 UMKM terpilih mengikuti proses seleksi lanjutan.

Dari proses tersebut, sebanyak 15 pelaku usaha berhasil lolos tahap kurasi dan ditetapkan sebagai UMKM percontohan.

Kelima belas UMKM tersebut dinilai telah menerapkan konsep ekonomi hijau mulai dari proses produksi, penggunaan bahan baku, hingga menghasilkan produk dengan minim risiko terhadap lingkungan.

Tri Arya menyampaikan 15 UMKM tersebut nantinya akan mendapatkan dukungan permodalan dan akses pasar melalui pertemuan dengan mitra strategis.

"Selain dengan buyers, juga mungkin ada dari lembaga keuangan ataupun kami dapat fasilitasi untuk usaha-usaha kredit yang bisa UMKM dapatkan," katanya.

Pelatihan dan Isu Sampah Jadi Peluang Ekonomi

Dalam proses inkubasi, Diskop UKM Bali melalui UPTD PLUT KUMKM juga memberikan pelatihan dan pembinaan melalui bootcamp bagi pelaku usaha.

Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pelaku UMKM agar lebih adaptif dan kompetitif.

"Jadi, tiga permasalahan utama UMKM itu bisa kami minimalkan di program Inkubasi Hijau ini, tapi dengan tema kelestarian lingkungan. Kami merasa UMKM hijau memang sudah harus dilakukan atau menjadi tren bagi pelaku UMKM di Provinsi Bali," ujar Tri Arya.

Ia menilai pelaku UMKM saat ini tidak hanya dituntut peduli terhadap pelestarian lingkungan, tetapi juga harus mampu membaca isu yang berkembang di masyarakat.

Menurutnya, persoalan sampah yang belakangan viral di Bali justru dapat menjadi peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha mikro yang memiliki inovasi.

"Sampah tersebut mungkin bagi orang yang tidak memiliki inovasi dan jiwa bisnis itu merupakan hal yang menjijikkan atau tidak bisa dibuat apa-apa, tapi kalau kita mempunyai inovasi dan ada jiwa kewirausahaan yang tinggi sampah tersebut bernilai ekonomi bisa dikelola, bisa diolah," jelasnya.

Melalui klasifikasi UMKM dalam program inkubasi tersebut, pemerintah daerah menargetkan tiga masalah utama usaha mikro dapat diperkecil sekaligus melahirkan inovasi usaha berkelanjutan di Bali.

Penulis :
Leon Weldrick