
Pantau - Pakar transisi energi Institut Teknologi Bandung atau ITB Retno Gumilang Dewi menilai penerapan biodiesel B50 dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Retno mengatakan pemanfaatan energi domestik akan membuat Indonesia lebih tahan menghadapi dampak krisis geopolitik global yang memengaruhi pasokan energi dunia.
“Aspek yang akan menjadikan pasokan energi kita stabil adalah memanfaatkan kekayaan milik kita sendiri. Dengan kita bisa memanfaatkannya, kita tidak akan terdampak dengan yang namanya krisis geopolitik seperti sekarang,” ungkap Retno.
Ia menegaskan isu energi saat ini tidak hanya berkaitan dengan pasokan, tetapi juga erat dengan dinamika geopolitik global.
Menurutnya, setiap negara kini berlomba mengamankan kebutuhan energinya di tengah ketidakpastian dunia.
Retno menilai Indonesia perlu lebih mandiri dalam mengelola potensi energi dalam negeri agar tidak terdampak gejolak global.
Transisi Energi Dibagi Tiga Tahap
Retno menjelaskan peta jalan transisi energi Indonesia dibagi menjadi tiga tahap untuk periode 2025 hingga 2060.
Tahap pertama pada 2025–2030 difokuskan pada stabilisasi energi, penguatan ketahanan energi nasional, diversifikasi energi, pemanfaatan gas domestik, co-firing biomassa di PLTU, implementasi B40 menuju B50, pengembangan bioetanol, serta percepatan energi baru terbarukan.
Tahap kedua pada 2030–2040 diarahkan pada pengembangan energi bersih melalui pemanfaatan energi surya, hidro, panas bumi, serta penguatan elektrifikasi transportasi dan industri.
Sementara tahap ketiga pada 2040–2060 difokuskan pada dekarbonisasi mendalam untuk mencapai target Net Zero Emission 2060.
Tahap tersebut mencakup pengurangan bertahap batu bara, pengembangan hidrogen, amonia, energi nuklir, hingga teknologi CCS dan CCUS.
Energi Fosil Dinilai Masih Dibutuhkan
Retno menegaskan transisi energi Indonesia tidak dapat dilakukan secara instan karena energi fosil masih diperlukan untuk menjaga keamanan pasokan energi nasional selama masa transisi.
“Kalau perpindahan energi dilakukan secara mendadak, dampaknya akan sangat besar terhadap ekonomi dan masyarakat. Karena itu, transisi energi Indonesia harus dilakukan secara bertahap dengan tetap mengutamakan ketahanan energi,” ujarnya.
Ia menilai tantangan terbesar transisi energi berada di sektor transportasi karena masih menjadi konsumen bahan bakar minyak terbesar di Indonesia.
Retno menyarankan pemerintah memperkuat pengembangan kendaraan listrik, penggunaan gas untuk transportasi massal, serta pengembangan bahan bakar rendah emisi secara bertahap.
- Penulis :
- Gerry Eka





