HOME  ⁄  Ekonomi

Surplus Neraca Dagang Menyusut Tajam, Ekonom Waspadai Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Surplus Neraca Dagang Menyusut Tajam, Ekonom Waspadai Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan
Foto: (Sumber : Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (5/1/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nz.)

Pantau - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengingatkan potensi pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal II 2026 setelah surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut drastis akibat lonjakan impor migas dan tingginya harga energi global.

Lonjakan Impor Migas Gerus Surplus Perdagangan

Surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 tercatat hanya sebesar 89,1 juta dolar AS.

Angka tersebut turun tajam dibandingkan surplus Maret 2026 yang mencapai 3,32 miliar dolar AS.

"Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia relatif terbantu oleh surplus perdagangan komoditas yang besar. Namun ketika harga energi naik dan impor migas meningkat, maka bantalan tersebut mulai menipis. Jika tren ini berlanjut, kita berpotensi melihat pelebaran defisit transaksi berjalan pada kuartal kedua tahun ini," kata Fakhrul Fulvian.

Ekspor Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 25,30 miliar dolar AS atau tumbuh 21,98 persen secara tahunan.

Di sisi lain, impor meningkat menjadi 25,21 miliar dolar AS atau naik 22,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Fakhrul menyoroti impor migas yang melonjak lebih dari 80 persen secara tahunan hingga mencapai 4,60 miliar dolar AS.

"Lonjakan ini terutama berasal dari impor hasil minyak dan minyak mentah yang meningkat tajam akibat kenaikan kebutuhan energi dan dampak perang di Timur Tengah terhadap harga minyak dunia," ungkapnya.

Defisit sektor migas Indonesia pada April 2026 mencapai 3,44 miliar dolar AS.

Sementara surplus nonmigas sebesar 3,53 miliar dolar AS hampir seluruhnya terserap untuk menutup kebutuhan impor energi.

Investor Mulai Cermati Ketahanan Neraca Pembayaran

Menurut Fakhrul, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena perdagangan barang menjadi fondasi utama transaksi berjalan Indonesia.

Ia menilai investor kini tidak hanya memperhatikan pertumbuhan ekspor, tetapi juga kemampuan Indonesia menghasilkan surplus devisa untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan eksternal.

"Ketika surplus perdagangan turun dari miliaran dolar menjadi hanya puluhan juta dolar dalam satu bulan, tentu pasar akan mulai mempertanyakan arah transaksi berjalan ke depan," ujarnya.

Di sisi lain, Fakhrul mengapresiasi kinerja ekspor nonmigas yang masih tumbuh kuat.

Ekspor nonmigas Indonesia pada April 2026 mencapai 24,15 miliar dolar AS atau meningkat 23,36 persen secara tahunan.

Meski demikian, tekanan dari kenaikan harga energi global dinilai mulai merambat ke perekonomian domestik.

Data inflasi Mei 2026 menunjukkan kenaikan harga masih terjadi pada kelompok transportasi, termasuk bensin, solar, tarif angkutan udara, dan pelumas.

Fakhrul mendorong pemerintah memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas rupiah serta memperbaiki struktur neraca pembayaran.

"Dalam konteks ini, kurva imbal hasil yang lebih kredibel dan kebijakan fiskal yang selaras akan menjadi sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor," kata Fakhrul.

Penulis :
Ahmad Yusuf