
Pantau - Perpustakaan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau menggelar kegiatan bedah buku dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia sebagai upaya memperkuat budaya literasi dan meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya generasi muda di daerah tersebut.
Kegiatan yang berlangsung di Batam, Kamis, itu menghadirkan penulis dan presenter nasional Sophie Navita untuk membedah bukunya berjudul Hati yang Gembira Adalah Obat.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau Ardhienus mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen BI dalam mendukung penguatan sumber daya manusia melalui peningkatan literasi.
"Kegiatan hari ini adalah bedah buku dalam rangka Hari Buku Sedunia. Tujuannya memang bagaimana kita terus mengembangkan literasi masyarakat Kepri, terutama generasi muda, sehingga kemampuan literasi mereka semakin baik dari waktu ke waktu," kata Ardhienus.
Literasi Dinilai Kunci Kemajuan Bangsa
Selain bedah buku, BI Kepri juga memberikan penghargaan kepada para pemenang lomba bertema literasi seperti konten kreatif perpustakaan, pemanfaatan BI Corner, cipta dan baca puisi, serta podcast literasi.
Ardhienus menegaskan literasi memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan bangsa sehingga perlu terus dikembangkan melalui berbagai program yang menarik dan dekat dengan masyarakat.
"Saya yakin sekali bahwa literasi sangat dibutuhkan untuk kemajuan bangsa. Karena itu kami berupaya terus menyemarakkan peringatan Hari Buku Sedunia setiap tahun agar literasi semakin berkembang dan memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa," ujarnya.
Indeks Literasi Kepri Masih Rendah
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kepulauan Riau Mohamad Bisri mengapresiasi inisiatif BI Kepri yang dinilai turut memperkuat ekosistem literasi di daerah.
Menurut Bisri, literasi menjadi fondasi penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang inovatif dan berpikir kritis.
"Kalau kita ingin memiliki SDM yang inovatif dan kritis, kuncinya adalah literasi. Dan bahan bakar literasi itu adalah buku yang dibaca, dipahami, dan dijadikan sumber ilmu pengetahuan," ungkapnya.
Bisri mengungkapkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Provinsi Kepulauan Riau saat ini berada di angka 36,04 yang masih masuk kategori rendah.
“Dengan itu Kepri masuknya ke dalam kategori ‘rendah’ literasi, dan makanya harus mendorong perpustakaan dalam segi sarana dan prasarana, serta pemanfaatannya,” katanya.
Ia menambahkan banyak perpustakaan telah memiliki koleksi buku yang memadai, namun tingkat kunjungan dan peminjaman buku masih relatif rendah.
"Nah ini menjadi PR (pekerjaan rumah) kita semua. Keluarga, masyarakat, pemerintah, termasuk BI, harus bersama-sama mengembalikan budaya membaca dan mencintai buku sebagai sumber ilmu pengetahuan," ujarnya.
Bisri menilai peningkatan literasi juga penting untuk membekali masyarakat menghadapi tantangan era digital agar tidak mudah terjebak penipuan, manipulasi informasi, maupun pinjaman online akibat rendahnya pemahaman informasi.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





