
Pantau - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin pagi melemah 71 poin atau 0,39 persen menjadi Rp18.107 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp18.036 per dolar AS akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipicu oleh eskalasi konflik baru di kawasan Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
“Harga minyak yang kembali naik oleh eskalasi baru di Timteng juga ikut menekan rupiah,” ungkap Lukman.
Konflik Iran-Israel Picu Tekanan Pasar
Ketegangan meningkat setelah Iran menembakkan sejumlah rudal ke wilayah Israel utara pada Minggu (7/6) malam.
Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Iran mengancam akan membalas serangan udara Israel di pinggiran Kota Beirut, Lebanon.
Sebelumnya, Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan militer Israel menyerang kawasan Beirut selatan sebagai respons atas penembakan yang dilakukan kelompok Hizbullah.
Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), serangan udara Israel menghantam dua apartemen di kawasan permukiman tanpa laporan korban jiwa.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan pasokan energi dan memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Data Pekerjaan AS Perkuat Dolar
Selain faktor geopolitik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan pasar.
“Penambahan pekerjaan dari sektor pemerintah 55 ribu pekerjaan, rekreasi dan perhotelan 70 ribu pekerjaan menjelang Piala Dunia,” kata Lukman.
Data Non-Farm Payrolls (NFP) yang kuat memperkuat prospek ekonomi AS dan meningkatkan daya tarik dolar AS di pasar keuangan global.
Berdasarkan perkembangan tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti





