HOME  ⁄  Ekonomi

IABI Sebut Catatan Geologi Kawasan Timur Jadi Kunci Perkuat Mitigasi Gempa dan Tsunami

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IABI Sebut Catatan Geologi Kawasan Timur Jadi Kunci Perkuat Mitigasi Gempa dan Tsunami
Foto: (Sumber : Aktivitas pendistribusian BBM di Sulut berjalan lancar pascagempa bumi Magnitudo 7,7 yang terjadi Senin (8/6/2026). ANTARA/HO-Pertamina/am..)

Pantau - Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menyatakan rekam jejak historis kebencanaan dan bukti geologi di kawasan timur Indonesia menjadi modal ilmiah penting untuk menyusun strategi mitigasi yang lebih akurat dalam menghadapi potensi gempa bumi dan tsunami di masa depan.

Pernyataan tersebut disampaikan Anggota IABI Daryono di Jakarta, Selasa, menyusul gempa bumi bermagnitudo 7,8 yang bersumber dari Zona Subduksi Cotabato, Filipina, pada Senin (8/6).

“Sejarah sebenarnya telah memberi petunjuk. Bagi ilmu kebumian, rangkaian peristiwa ini adalah bagian dari cerita panjang yang membantu kita untuk memahami bagaimana memilih untuk bersiap menghadapinya,” ungkapnya.

Data Historis Jadi Instrumen Prediksi

Daryono menjelaskan catatan gempa besar yang pernah terjadi di kawasan pertemuan Lempeng Laut Filipina, Palung Cotabato, dan Subduksi Ganda Laut Maluku pada 1918, 1976, 1996, hingga 2023 menjadi sumber data penting bagi para ilmuwan.

Menurutnya, pola spasial dan mekanisme patahan dari gempa-gempa terdahulu memungkinkan para ahli memetakan tingkat ketidakpastian tektonik secara lebih terukur.

Melalui pendekatan tersebut, ilmuwan dapat memperkirakan potensi magnitudo, kedalaman gempa, hingga risiko tsunami yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Ia menilai ketersediaan data ilmiah tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman masyarakat dan meningkatkan sistem keselamatan hingga tingkat komunitas.

Karakter Unik Zona Gempa di Kawasan Timur

Daryono menerangkan Subduksi Cotabato di bagian selatan Filipina memiliki karakter penunjaman yang relatif sempit namun aktif dengan segmentasi yang kuat.

Zona tersebut berasosiasi dengan pembentukan sesar naik dan sesar geser yang meningkatkan potensi terjadinya gempa dangkal yang merusak.

Sementara itu, Laut Maluku memiliki sistem subduksi ganda yang tergolong langka di dunia.

Lempeng Laut Maluku bergerak ke arah barat di bawah Busur Sangihe dan ke arah timur di bawah Busur Halmahera sehingga menciptakan sistem tumbukan antarbentang kepulauan yang kompleks.

Proses tersebut menghasilkan deformasi kerak bumi yang intens serta aktivitas seismik dengan variasi kedalaman yang beragam.

Edukasi dan Tata Ruang Berbasis Risiko

IABI optimistis integrasi data geologi dengan peningkatan kesadaran masyarakat dapat memperkuat ketangguhan wilayah timur Indonesia dalam menghadapi ancaman geodinamika.

“Bencana bukan hanya tentang apa yang terjadi di dalam bumi, tetapi bagaimana kita memilih untuk bersiap menghadapinya. Ini adalah momentum terbaik untuk menempatkan edukasi publik dan tata ruang berbasis risiko sebagai prioritas utama kita,” ujar Daryono.

IABI menilai penguatan edukasi kebencanaan dan penerapan tata ruang berbasis risiko menjadi langkah strategis untuk mengurangi dampak gempa dan tsunami di kawasan yang memiliki aktivitas tektonik tinggi.

Penulis :
Aditya Yohan