
Pantau - Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali menilai investasi di Pulau Dewata tetap menarik di tengah krisis geopolitik global berkat dukungan insentif pemerintah, daya saing daerah, dan status Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Realisasi Investasi Bali Tumbuh Hampir 18 Persen
Kepala BI Bali Achris Sarwani mengatakan kinerja investasi di Bali terus menunjukkan penguatan meskipun dunia masih menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
“Kinerja investasi Bali terus menguat di tengah ketidakpastian global,” katanya di Denpasar, Selasa.
Bersama Pemerintah Provinsi Bali, BI telah menyusun katalog investasi yang mencakup 22 proyek infrastruktur potensial.
Sejumlah proyek tersebut antara lain Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur, proyek penerangan jalan, dan pengadaan kendaraan listrik.
Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) di Bali mencapai Rp42,82 triliun sepanjang 2025.
Nilai tersebut meningkat 17,85 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Realisasi investasi itu juga berhasil menyerap lebih dari 68 ribu tenaga kerja dan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Investasi Masih Terkonsentrasi di Bali Selatan
Meski menunjukkan pertumbuhan positif, BI mencatat masih terdapat tantangan dalam pemerataan investasi.
Sebanyak 88 persen realisasi investasi masih terkonsentrasi di wilayah Bali Selatan dan 97 persen didominasi sektor tersier.
Kabupaten Badung menjadi wilayah dengan investasi terbesar mencapai Rp22,21 triliun.
Posisi berikutnya ditempati Kota Denpasar sebesar Rp10,61 triliun, Kabupaten Gianyar Rp4,96 triliun, dan Kabupaten Tabanan Rp2,04 triliun.
Tiga sektor investasi terbesar di Bali meliputi real estat, penyediaan akomodasi, serta penyediaan makanan dan minuman.
Sementara itu, lima negara dengan nilai investasi terbesar berasal dari Australia sebesar Rp3,89 triliun, Singapura dan Rusia masing-masing Rp3 triliun, Prancis Rp1,95 triliun, serta Belanda Rp1,41 triliun.
“Kondisi ini mendorong perlunya penguatan investasi yang lebih inklusif, merata, dan terdiversifikasi antarwilayah maupun sektor ekonomi,” ujarnya.
Ekonomi Bali Diproyeksikan Tetap Tumbuh Kuat
Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Bali pada 2026 tetap tumbuh solid di kisaran 5,4 hingga 5,9 persen.
Menurut Achris, prospek ekonomi yang kuat, inflasi yang terjaga, optimisme pelaku usaha, serta dukungan insentif pemerintah menjadi faktor utama yang menjaga daya tarik investasi di Bali.
“Dengan outlook ekonomi yang tetap kuat, terjaganya inflasi, tetap solidnya optimisme pelaku usaha, dukungan insentif oleh pemerintah, serta daya saing daerah Bali yang sangat baik tentunya semakin membuka peluang peningkatan investasi di Bali,” katanya.
- Penulis :
- Aditya Yohan





