HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Ditutup Melemah 0,98 Persen, Investor Menanti Keputusan MSCI soal Status Pasar Indonesia

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

IHSG Ditutup Melemah 0,98 Persen, Investor Menanti Keputusan MSCI soal Status Pasar Indonesia
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 60,45 poin atau 0,98 persen ke level 6.116,69 pada perdagangan Senin (22/6/2026), seiring sikap wait and see investor menjelang pengumuman klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga turun 10,20 poin atau 1,67 persen ke posisi 599,20.

Investor Cermati Keputusan MSCI dan Risiko Arus Modal Asing

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan pelemahan pasar dipengaruhi sejumlah faktor domestik dan eksternal.

"Pelemahan IHSG terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh bank sentral, penurunan penilaian aksesibilitas Information Flow Indonesia oleh MSCI, serta penghapusan sejumlah saham domestik dari indeks FTSE Russell," ungkapnya.

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada pengumuman Annual Market Classification Review oleh MSCI yang dijadwalkan pada Rabu (24/6/2026) pagi waktu Indonesia.

Dalam pengumuman tersebut, MSCI akan menentukan apakah Indonesia tetap berada dalam kategori Emerging Market atau turun menjadi Frontier Market.

Kekhawatiran investor meningkat karena perubahan status tersebut dinilai dapat berdampak terhadap aliran dana asing di pasar keuangan nasional.

"(Apabila turun) berpotensi memicu arus keluar modal asing dalam jumlah besar dari pasar keuangan Indonesia," ujar Nico.

Faktor Global dan Pergerakan Sektor Membebani Pasar

Dari sisi global, pasar Asia bergerak bervariasi akibat meningkatnya ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat dan Iran selama akhir pekan.

Selain itu, People's Bank of China (PBoC) mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya untuk bulan ke-13 secara berturut-turut.

Kebijakan tersebut mencerminkan sikap hati-hati pemerintah China di tengah perlambatan konsumsi rumah tangga dan investasi.

Pada awal perdagangan, IHSG sempat dibuka menguat sebelum berbalik masuk ke zona negatif hingga penutupan sesi pertama.

Pada sesi kedua, IHSG tetap bergerak di zona merah hingga perdagangan berakhir.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, hanya sektor energi dan teknologi yang mencatat penguatan masing-masing sebesar 1,47 persen dan 0,18 persen.

Sebanyak sembilan sektor lainnya mengalami pelemahan dengan sektor barang baku turun paling dalam sebesar 2,49 persen, diikuti sektor industri 2,36 persen dan sektor kesehatan 2,23 persen.

Saham yang mencatat kenaikan harga terbesar adalah ZONE, disusul EMDE, KIOS, BYAN, dan ADES.

Sementara itu, saham dengan pelemahan terbesar adalah BAIK, diikuti BINA, HBAT, LUCY, dan UDNG.

Frekuensi perdagangan saham tercatat mencapai 1,709 juta transaksi dengan volume perdagangan sebanyak 20,95 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp13,47 triliun.

Sebanyak 227 saham menguat, 471 saham melemah, dan 261 saham tidak mengalami perubahan harga.

Di kawasan Asia, indeks Nikkei menguat 1,86 persen ke level 72.572,00, indeks Shanghai naik 1,78 persen ke posisi 4.163,10, indeks Strait Times menguat 0,22 persen ke level 5.204,01, sedangkan indeks Hang Seng melemah 0,65 persen ke posisi 23.768,52.

Penulis :
Shila Glorya