HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Dibuka Melemah, Pelaku Pasar Masih Tunggu Sentimen Positif Global dan Domestik

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Dibuka Melemah, Pelaku Pasar Masih Tunggu Sentimen Positif Global dan Domestik
Foto: (Sumber :Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah 19,34 poin atau 0,33 persen ke level 5.801,45 pada perda

gangan Selasa pagi, seiring pelaku pasar masih bersikap wait and see terhadap perkembangan sentimen global dan domestik.

Investor Cermati Data Ekonomi dan Risiko Global

Sementara itu, Indeks LQ45 turut turun 4,02 poin atau 0,70 persen ke posisi 568,99.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, "Apabila rebound terjadi, IHSG berpotensi menguji resistance 5.996-6.013, dan jika mampu menembus area tersebut, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.097 hingga 6.221-6.287. Namun, apabila support 5.722 gagal dipertahankan, risiko koreksi yang lebih dalam menuju 5.677 hingga 5.594 masih terbuka."

Menurut Liza, investor global masih menantikan sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, termasuk Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTs), Non-Farm Payrolls (NFP), tingkat pengangguran, serta pidato pejabat The Fed yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga.

Ia juga menilai ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian pasar meski belum memicu kepanikan di pasar keuangan global.

Liza mengatakan, "Kondisi ini membuat premi risiko geopolitik kembali meningkat namun belum memicu kepanikan di pasar keuangan global."

Pasar Tunggu Data Domestik dan Kebijakan Pemerintah

Dari dalam negeri, pelaku pasar menunggu rilis data PMI Manufaktur Indonesia, inflasi Juni, serta neraca perdagangan yang akan menjadi indikator kondisi ekonomi nasional dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia.

Pemerintah juga terus memperkuat likuiditas melalui pengembalian dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp110 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), sehingga total penempatan dana pemerintah di perbankan tetap Rp281 triliun hingga akhir Desember 2026.

Selain itu, pemerintah menyiapkan dana siaga sebesar Rp100 triliun untuk menjaga likuiditas perbankan di tengah pertumbuhan kredit yang masih mencapai 11,5 persen secara tahunan hingga Mei 2026.

Liza menilai kombinasi arus modal asing, penguatan likuiditas perbankan, serta dukungan pemerintah terhadap investasi dan ekspor berpotensi menjadi sentimen positif bagi stabilitas rupiah, pasar obligasi, dan sektor perbankan.

Penulis :
Ahmad Yusuf