HOME  ⁄  Ekonomi

Asbenas Kirim Perdana 200 Ton Jagung Pangan untuk Industri, Dorong Pengurangan Ketergantungan Impor

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Asbenas Kirim Perdana 200 Ton Jagung Pangan untuk Industri, Dorong Pengurangan Ketergantungan Impor
Foto: Pengiriman jagung pangan dari Asosiasi Benih Nusantara (Asbenas) di Kediri, Jawa Timur, Selasa (30/6/2026). Jagung pangan itu untuk diserap Perkumpulan Produsen Pemurni Jagung Indonesia (P3JI) dan industri pangan lainnya di Indonesia (sumber: ANTARA/ Asmaul)

Pantau - Asosiasi Benih Nusantara (Asbenas) di Kediri, Jawa Timur, mengirimkan perdana sebanyak 200 ton jagung kualitas pangan atau jagung industri yang akan diserap oleh Perkumpulan Produsen Pemurni Jagung Indonesia (P3JI) dan sejumlah industri pangan di Indonesia sebagai upaya mendukung pengurangan ketergantungan impor jagung pangan.

Pengiriman Perdana Jagung Pangan

Wakil Ketua Asbenas Kediri Dedy Supriadi mengatakan pengiriman perdana tersebut dilakukan menuju Cilegon, Wonogiri, Pasuruan, Krian, serta sejumlah daerah lainnya.

Ia mengungkapkan, "Untuk jagung spesifikasi pangan notabene selama ini jagung pangan itu hampir 100 persen didatangkan dari impor, karena memang standar kualitas itu berbeda antara jagung pakan dengan jagung pangan. Hari ini perdana ini kami coba kirim sekitar 200 ton."

Menurut Dedy, kebutuhan jagung pangan untuk anggota P3JI di Indonesia mencapai sekitar 1 juta ton hingga 1,5 juta ton per tahun.

Ia menyebut kebutuhan tersebut masih lebih rendah dibandingkan kebutuhan jagung pakan yang mencapai sekitar 15 juta ton per tahun.

Dedy menjelaskan produksi jagung nasional pada 2025 mencapai sekitar 16 juta ton.

Ia mengatakan minimnya permintaan jagung pangan dipengaruhi masih terbatasnya industri pengolahan jagung pangan di dalam negeri yang didominasi beberapa perusahaan besar.

Ia menambahkan hingga saat ini bahan baku jagung pangan masih hampir 100 persen berasal dari impor.

Ia mengungkapkan, "Bisa juga faktor demand, karena jagung pangan ini tidak hanya disuplai dari jagungnya itu sendiri, tapi juga ada industri setengah jadi. Jadi mereka juga bisa impor tepung jagung misalkan, impor dextrose, maltose langsung. Jadi itu mungkin juga sebagai faktor lain kenapa industrinya masih stagnan di kebutuhan 1,5 juta ton."

Standar Mutu dan Dukungan Pemerintah

Dedy mengatakan sebanyak 14 perusahaan dalam negeri ikut mengirimkan jagung pangan secara perdana dengan varietas yang berasal dari berbagai jenis.

Ia memastikan seluruh jagung yang dikirim telah memenuhi standar mutu setelah melalui pengujian kandungan pati, protein, dan parameter lainnya.

Ia mengungkapkan, "Untuk kualitas jagung tetap sesuai standar, karena sebelum pengiriman juga sudah dilakukan uji standar mutu kandungan di jagung, baik kandungan pati, protein, dan lainnya sehingga sudah memenuhi syarat."

Pengiriman 200 ton jagung pangan tersebut menjadi langkah konkret Asbenas dalam mendukung pemerintah mengurangi ketergantungan impor jagung pangan sekaligus mendorong pengembangan dari hulu perbenihan hingga hilirisasi industri secara mandiri dan berkualitas.

Dedy menambahkan proses perbenihan diharapkan menjadi role model dalam menghasilkan jagung berkualitas pangan serta sinergi dengan perusahaan industri pangan menjadi kunci keberlanjutan program yang juga membutuhkan dukungan Kementerian Pertanian.

Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Ladiyani Retno Widowati mengatakan pemerintah melakukan koordinasi dengan produsen benih, P3JI, pemangku kepentingan, serta pihak pengujian produk untuk mendukung penyerapan dan peningkatan kualitas jagung pangan.

Ia mengungkapkan, "Kami berkoordinasi dengan para produsen benih, khususnya, kemudian dengan P3JI agar ada koordinasi yang kuat antara stakeholder ini."

Pelepasan pengiriman jagung pangan dihadiri jajaran Kementerian Pertanian RI, perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Kediri, unsur TNI dan Polri, serta jajaran pengurus Asbenas.

Penulis :
Arian Mesa