
Pantau - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat sore menguat 63 poin atau 0,35 persen ke level Rp18.065 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp18.128 per dolar AS.
Cadangan Devisa Masih Menopang Rupiah
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan penguatan rupiah masih didukung oleh cadangan devisa yang memadai.
Ia mengungkapkan, "Rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa yang memadai serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar. Kedua faktor tersebut diharapkan mampu meredam tekanan apabila gejolak di pasar keuangan global kembali meningkat."
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai 145,6 miliar dolar AS.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan posisi akhir Mei 2026 yang sebesar 144,9 miliar dolar AS.
Amru menilai rupiah masih berpeluang menguat pada pekan depan apabila tekanan terhadap dolar AS terus berlanjut.
Meski demikian, potensi penguatan rupiah diperkirakan tidak akan terlalu besar karena investor masih menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat.
Data Inflasi AS dan Konflik Timur Tengah Jadi Sorotan
Data yang paling diperhatikan pasar adalah inflasi inti atau Core CPI Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Ia mengatakan, "Sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan rupiah pekan depan adalah rilis data Core CPI Amerika Serikat. Jika inflasi inti lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi The Fed akan kembali menguat. Kondisi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan memberi tekanan pada rupiah."
Apabila inflasi Amerika Serikat lebih tinggi dari perkiraan, pasar diperkirakan kembali memperkirakan suku bunga tinggi The Fed bertahan lebih lama sehingga berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan rupiah.
Sebaliknya, apabila inflasi Amerika Serikat lebih rendah dari ekspektasi pasar, peluang pelemahan dolar AS akan semakin besar sehingga memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali menguat.
Pasar juga akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia serta minat investor terhadap aset safe haven.
Arus modal asing dan langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Dalam sepekan ke depan, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp18.000 hingga Rp18.128 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga menguat ke level Rp18.069 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.090 per dolar AS.
- Penulis :
- Shila Glorya





