HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Berpotensi Bergerak Volatil akibat Sentimen Risk Off dan Memanasnya Konflik AS-Iran

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Berpotensi Bergerak Volatil akibat Sentimen Risk Off dan Memanasnya Konflik AS-Iran
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/bar..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak volatil pada perdagangan Selasa seiring meningkatnya sikap risk off investor akibat memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, meski pembukaan perdagangan masih berada di zona hijau.

Ketegangan Global Tekan Sentimen Pasar

IHSG dibuka menguat 19,92 poin atau 0,33 persen ke level 6.057,76, sedangkan Indeks LQ45 naik 0,74 poin atau 0,12 persen ke posisi 603,11.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus mengatakan secara teknikal pergerakan IHSG masih berpotensi melemah terbatas.

"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.000- 6.220," ungkap Nico.

Ia menjelaskan sentimen utama berasal dari meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pemblokiran kapal dari dan menuju pelabuhan Iran mulai 14 Juli 2026 serta rencana mengenakan tarif 20 persen terhadap seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz.

Menurut Nico, kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

"Sentimen itu membuat harga minyak kembali naik, yang memicu probabilitas kenaikan tingkat suku bunga oleh bank sentral AS The Fed pada tahun ini," katanya.

Rating S&P Jadi Penopang Optimisme

Dari dalam negeri, S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil serta memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,1 persen pada 2026.

Proyeksi tersebut didukung oleh belanja fiskal, program hilirisasi, serta penguatan pengelolaan sektor sumber daya alam dengan komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah tiga persen terhadap produk domestik bruto.

Nico menilai keputusan S&P dapat menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi dan saham domestik, terutama sektor perbankan, konsumer, dan infrastruktur.

"Namun, dampak positif itu kemungkinan masih akan dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI), dan perkembangan kondisi ekonomi global, sehingga ruang penguatan pasar tetap bergantung pada stabilitas makro dan arus modal asing," ujarnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf