
Pantau - Direktur Pusat Studi dan Advokasi Hukum Sumber Daya Alam (Pustaka Alam) Muhamad Zainal Arifin menilai keberlangsungan pemupukan, pemanenan, dan pemeliharaan menjadi faktor utama untuk menjaga produktivitas perkebunan sawit di tengah indikasi penurunan hasil kebun yang dikelola PT Agrinas Palma Nusantara.
Pemeliharaan Kebun Dinilai Tidak Boleh Terhenti
Zainal mengatakan kegiatan pemeliharaan yang terhenti tidak akan langsung terlihat dampaknya, namun berpotensi menurunkan produksi dalam jangka menengah dan panjang.
Ia mengungkapkan, “Apabila kegiatan tersebut terhenti, dampaknya memang tidak langsung terlihat, tetapi akan menurunkan produksi dalam jangka menengah dan panjang.”
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul indikasi penurunan produktivitas kebun sawit yang dikelola PT Agrinas Palma Nusantara.
Sebelumnya, Agrinas Palma melaporkan membukukan surplus Rp2,86 triliun dan laba bersih Rp27,9 miliar pada tahun buku 2025 serta mengelola sekitar 1,7 juta hektare lahan perkebunan sawit hasil penugasan negara.
Namun, Zainal menilai capaian laba tersebut belum mencerminkan potensi ekonomi dari aset yang dikelola.
Ia menjelaskan dari total penugasan sekitar 4,11 juta hektare lahan, baru sekitar 1,7 juta hektare yang telah terverifikasi.
Dari luasan tersebut, sekitar 730 ribu hektare telah ditanami sawit, sedangkan hingga pertengahan 2026 kebun yang benar-benar dikelola secara mandiri baru mencapai sekitar 168 ribu hektare.
Zainal juga menyoroti masih adanya sejumlah persoalan legalitas lahan, mulai dari Izin Usaha Perkebunan (IUP), Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), persetujuan lingkungan, pelepasan kawasan hutan, hingga Hak Guna Usaha (HGU).
Pemerintah Diminta Tetapkan Target Terukur
Zainal mengutip pembahasan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR yang menyebut produktivitas kebun turun dari sekitar 18 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun menjadi sekitar 6 hingga 6,5 ton per hektare.
Ia mengatakan, “Secara matematis, penurunannya mencapai sekitar 64-67 persen. Ini harus ditelusuri penyebabnya, apakah akibat menurunnya kualitas kebun atau terdapat persoalan dalam pengelolaannya.”
Menurutnya, indikator keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari laba, tetapi juga mencakup kejelasan legalitas lahan, luas tanaman menghasilkan, produktivitas per hektare, utilisasi pabrik kelapa sawit, penyelesaian konflik agraria, serta besarnya penerimaan negara.
Ia mengungkapkan, “Pemerintah juga perlu menetapkan target yang terukur bagi manajemen Agrinas Palma dalam 1-2 tahun ke depan. Apabila produktivitas, kondisi pabrik, maupun transparansi pengelolaan tidak menunjukkan perbaikan, pemerintah harus berani mengevaluasi secara menyeluruh model penyerahan dan pengelolaan aset tersebut.”
- Penulis :
- Aditya Yohan





