HOME  ⁄  Ekonomi

Proyek North Hub Selat Makassar Diproyeksikan Perkuat Investasi Hulu Migas dan Ketahanan Energi Nasional

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Proyek North Hub Selat Makassar Diproyeksikan Perkuat Investasi Hulu Migas dan Ketahanan Energi Nasional
Foto: Kepala SKK Migas Djoko Siswanto meninjau pemotongan baja perdana fasilitas FPSO Bahtera Haluan Lestari di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Kamis 23/7/2026 (sumber: ANTARA/Fitra Ashari)

Pantau - Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan pembangunan proyek strategis nasional North Hub Selat Makassar akan menciptakan iklim investasi yang lebih baik bagi industri hulu migas Indonesia dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai 7–8 miliar dolar AS serta cadangan gas sekitar 5 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/TCF).

Djoko menyampaikan pernyataan tersebut kepada awak media saat meninjau pemotongan baja perdana fasilitas Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) Bahtera Haluan Lestari di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026).

Ia mengungkapkan, "Ini menjadi suasana iklim investasi yang baik bahwa industri hulu migas Indonesia itu sangat diminati, sangat berkembang dan membuktikan kepada internasional bahwa Indonesia masih, bahkan sedang giat-giatnya untuk melakukan investasi terutama di hulu migas."

Proyek strategis nasional North Hub diperkirakan akan memberikan pendapatan kepada pemerintah hampir 13 miliar dolar AS.

Dari sisi ketahanan energi nasional, proyek tersebut diharapkan meningkatkan pasokan gas bagi industri dalam negeri sekaligus mengurangi impor energi sekitar 72 persen.

Distribusi Gas untuk Industri dan Cadangan Energi

Sekitar 52 persen produksi gas dari proyek North Hub akan disalurkan melalui jaringan pipa untuk memenuhi kebutuhan industri di Kalimantan.

Industri yang akan menerima pasokan gas tersebut meliputi pembangkit listrik, industri pupuk, petrokimia, amonia, dan metanol.

Sebanyak 12 persen produksi gas akan dimanfaatkan sebagai pasokan LNG bagi PT PLN dan PT PGN.

Sekitar 8 persen dari alokasi domestik akan disimpan sebagai cadangan untuk mengantisipasi kebutuhan industri baru pada masa mendatang.

Sementara itu, sebanyak 28 persen produksi gas akan dialokasikan untuk ekspor.

Djoko menjelaskan, "Produksi gas dan kondensat dari proyek ini akan membantu mengurangi impor minyak dan bahan bakar minyak (BBM). Gas yang dihasilkan juga akan dimanfaatkan sebagai compressed natural gas (CNG) untuk mendukung pengurangan LPG impor."

FPSO Layani Dua Lapangan Gas dan Buka Peluang Ekonomi

Fasilitas FPSO yang sedang dibangun akan melayani Lapangan North Hub dan Lapangan Gehem.

Setelah proyek tersebut, pemerintah berencana mengembangkan proyek serupa di Lapangan Geliga yang berada di lepas pantai Kalimantan Timur dengan memanfaatkan desain FPSO yang sama agar investasi menjadi lebih efisien.

Djoko mengatakan proyek tersebut juga akan mendorong pertumbuhan industri lain di sekitar lokasi serta diperkirakan membuka ribuan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Kabupaten Karimun.

Menurut Djoko, peningkatan ketahanan energi dalam negeri akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penulis :
Leon Weldrick