HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Melemah Ikuti Bursa Global Akibat Lonjakan Harga Minyak dan Tensi Geopolitik

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Melemah Ikuti Bursa Global Akibat Lonjakan Harga Minyak dan Tensi Geopolitik
Foto: (Sumber :Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 setelah seharian berkutat di zona merah pada rentang 5.841-6.213. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (24/7) dibuka melemah 48,33 poin atau 0,77 persen ke level 6.266,98 seiring pelemahan bursa saham global yang dipicu kenaikan harga minyak akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Tekanan Global Bebani Pergerakan IHSG

Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga turun 6,66 poin atau 1,06 persen ke posisi 620,46 pada awal perdagangan.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, "Apabila tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji area support 6.262, 6.181, hingga 6.103. Sementara itu, apabila mampu kembali menguat, resistance berada di 6.377-6.394, kemudian 6.454."

Ketegangan geopolitik meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah sehingga memperburuk gangguan distribusi minyak global.

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan turun sekitar 75 persen, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran akan dimintai pertanggungjawaban apabila serangan serupa kembali terjadi.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, dengan minyak Brent melonjak lebih dari 6 persen hingga menembus 100 dolar AS per barel dan minyak WTI naik lebih dari 6 persen ke atas 92 dolar AS per barel.

Lonjakan harga energi turut meningkatkan ekspektasi inflasi serta memunculkan peluang kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Sentimen Domestik dan Bursa Global

Dari dalam negeri, pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) melambat menjadi 8,7 persen secara tahunan pada Juni 2026 dari 10,8 persen pada Mei 2026 akibat arus modal keluar, kontraksi Net Foreign Assets (NFA), serta penarikan sementara dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke Bank Indonesia.

Liza mengatakan, "Namun, prospek jangka panjang masih dibayangi risiko pengetatan apabila The Fed kembali bersikap lebih hawkish, ketegangan geopolitik mendorong kenaikan harga minyak, atau pemerintah kembali menarik dana SAL untuk memperkuat ruang fiskal."

Di sisi lain, penerbitan perdana Panda Bond Indonesia di pasar keuangan China mencatat bid-to-cover ratio sebesar 2,4 kali dengan permintaan investor mencapai sekitar 17 miliar yuan China dibandingkan nilai penerbitan sebesar 7 miliar yuan China.

Pelemahan juga terjadi di bursa saham global, termasuk indeks-indeks utama di Eropa, Wall Street, dan mayoritas bursa Asia yang kompak bergerak di zona merah pada perdagangan Jumat.

Penulis :
Aditya Yohan