
Pantau - Kementerian Keuangan mencatat realisasi pendapatan negara di Jawa Timur hingga 30 Juni 2026 mencapai Rp128,18 triliun atau setara 42,45 persen dari target APBN sebesar Rp301,96 triliun.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Timur I sekaligus Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Jawa Timur Max Darmawan mengungkapkan, "Pendapatan negara ini terdiri atas penerimaan perpajakan sebesar Rp123,81 triliun atau 41,87 persen dari target dan PNBP sebesar Rp4,37 triliun atau 69,86 persen dari target."
Penerimaan perpajakan mencapai Rp123,81 triliun dengan realisasi sebesar 41,87 persen dari target APBN.
Komponen penerimaan perpajakan terdiri atas penerimaan pajak sebesar Rp57,20 triliun dan penerimaan kepabeanan serta cukai sebesar Rp66,61 triliun.
Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp4,37 triliun.
Penerimaan Pajak dan Kepabeanan Tumbuh Positif
Penerimaan pajak tumbuh 17,38 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedangkan penerimaan kepabeanan dan cukai meningkat 0,41 persen (yoy) dan PNBP tumbuh 7,23 persen (yoy).
Realisasi penerimaan pajak sebesar Rp57,20 triliun baru mencapai 39,58 persen dari target APBN.
Kinerja penerimaan pajak didukung oleh PPh Badan sebesar Rp8,30 triliun yang tumbuh 16,34 persen (yoy).
Penerimaan dari PPh Orang Pribadi dan PPh Pasal 21 mencapai Rp5,65 triliun atau tumbuh 1,55 persen (yoy).
Penerimaan pajak neto dari PPh Pasal 22, PPh Pasal 26, dan PPh Final tercatat sebesar Rp3,03 triliun atau mengalami kontraksi 1,15 persen (yoy).
Kontraksi tersebut terjadi akibat pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagai tindak lanjut atas putusan banding Pengadilan Pajak.
Max Darmawan mengatakan, "Namun, secara bruto masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 12,13 persen (yoy)."
Penerimaan pajak dari sektor industri pengolahan, perdagangan, pemerintahan, serta transportasi dan pergudangan tercatat tumbuh baik secara bruto maupun neto.
Cukai Turun, Bea Masuk Menguat
Dari sisi kepabeanan dan cukai, penerimaan cukai terealisasi sebesar Rp63,11 triliun atau mencapai 43,59 persen dari target APBN.
Penerimaan cukai mengalami kontraksi 0,06 persen (yoy).
Penurunan penerimaan cukai dipengaruhi oleh menurunnya produksi hasil tembakau pada November 2025, Desember 2025, dan Maret 2026.
Sementara itu, realisasi bea masuk mencapai Rp3,20 triliun atau sebesar 52,95 persen dari target APBN.
Bea masuk tumbuh 11,30 persen (yoy) yang didorong oleh peningkatan nilai impor, peningkatan volume impor, serta penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.
Realisasi bea keluar tercatat sebesar Rp300 miliar atau mencapai 79,95 persen dari target APBN.
Bea keluar mengalami kontraksi 3,72 persen (yoy) akibat turunnya harga CPO dan menurunnya volume produk turunan CPO.
PNBP Ditopang Kinerja BLU dan Lelang
Pendapatan negara juga didukung oleh realisasi PNBP sebesar Rp4,37 triliun.
Kinerja PNBP ditopang oleh optimalisasi penerimaan Badan Layanan Umum (BLU) sebesar Rp1,99 triliun serta PNBP lainnya sebesar Rp2,38 triliun.
Rincian realisasi PNBP meliputi PNBP pokok lelang sebesar Rp1,88 triliun, PNBP lelang sebesar Rp49,05 miliar, PNBP pengurusan piutang negara sebesar Rp79,06 juta, dan PNBP aset sebesar Rp85,86 miliar.
- Penulis :
- Shila Glorya



