HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Berpotensi Bergerak Variatif di Awal Pekan Dipengaruhi Sentimen Global dan Domestik

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Berpotensi Bergerak Variatif di Awal Pekan Dipengaruhi Sentimen Global dan Domestik
Foto: (Sumber :Arsip - Seorang pria mengamati layar pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (12/12/2025). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin diperkirakan bergerak variatif seiring kombinasi sentimen global dan domestik, meski dibuka menguat 36,49 poin atau 0,59 persen ke level 6.272,62, sedangkan Indeks LQ45 naik 6,05 poin atau 0,97 persen menjadi 627,29.

Sentimen Global Jadi Penopang Pergerakan Pasar

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan selama mampu bertahan di atas level 6.200 hingga 6.180.

“Selama IHSG mampu bertahan di atas 6.200-6.180, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju 6.244 sebagai resistance terdekat, dan apabila berhasil breakout, penguatan berpotensi berlanjut ke 6.315 hingga 6.377. Sebaliknya, apabila kembali turun di bawah 6.180, IHSG berisiko menguji support 6.186/6.177 hingga 6.135,” ungkap Liza.

Ia menjelaskan sentimen global didorong optimisme terhadap sektor teknologi setelah laporan keuangan Amazon melampaui ekspektasi dan memicu reli saham kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta semikonduktor.

“Kombinasi kuatnya kinerja emiten teknologi dan kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter membuat pergerakan pasar tetap selektif,” ujarnya.

Liza menambahkan pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang kembali bernada hawkish memperkuat ekspektasi bahwa ruang penurunan suku bunga dalam waktu dekat masih terbatas.

“Pernyataan itu memperkuat ekspektasi pasar bahwa ruang penurunan suku bunga dalam waktu dekat masih terbatas,” katanya.

Faktor Domestik dan Geopolitik Ikut Membayangi

Selain sentimen global, pasar juga mencermati meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China setelah AS memasukkan 43 perusahaan China ke daftar larangan impor berdasarkan Uyghur Forced Labor Prevention Act (UFLPA).

“Kebijakan ini berpotensi meningkatkan ketidakpastian perdagangan global, terutama pada sektor baterai kendaraan listrik, logam, elektronik, dan energi,” ujar Liza.

Dari dalam negeri, pasar turut memperhatikan penundaan rencana penerbitan obligasi dolar AS oleh Danantara akibat kondisi pasar obligasi global yang belum kondusif, pelemahan rupiah, meningkatnya defisit transaksi berjalan, serta kehati-hatian investor.

Di sisi lain, pemerintah bersama DPR mempercepat pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) untuk menarik aliran modal global melalui regulasi yang kompetitif, kepastian hukum, dan tata kelola berstandar internasional.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, mayoritas bursa Eropa dan Wall Street ditutup menguat, sedangkan sebagian besar bursa Asia pada perdagangan Senin pagi bergerak melemah.

Penulis :
Ahmad Yusuf