
Pantau - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat volume angkutan petikemas mencapai 3.437.795 ton sepanjang Januari hingga Juli 2026 atau meningkat 20,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, memperkuat konektivitas rel dengan pelabuhan untuk mendukung distribusi logistik nasional.
Volume Angkutan Petikemas Terus Meningkat
Peningkatan juga terlihat pada kinerja Juli 2026 dengan volume angkutan petikemas mencapai 521.892 ton atau naik 22,80 persen dibandingkan Juli 2025 yang sebesar 424.999 ton.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan kenaikan tersebut menunjukkan semakin banyak pelaku usaha memanfaatkan kereta api sebagai bagian dari rantai pasok industri.
Ia mengungkapkan, “Pertumbuhan volume petikemas menunjukkan semakin banyak pelaku usaha memanfaatkan kereta api dalam rantai pasoknya. KAI terus memperkuat konektivitas antara kawasan industri, terminal petikemas, dan pelabuhan agar distribusi produk manufaktur berlangsung semakin efisien, terjadwal, dan memiliki kepastian waktu.”
KAI menilai angkutan petikemas berbasis rel memiliki kapasitas besar, jadwal yang terencana, serta mampu mendukung distribusi produk manufaktur, bahan baku industri, barang konsumsi, dan berbagai komoditas lainnya.
Konektivitas Rel dan Pelabuhan Diperkuat
KAI terus mengembangkan integrasi layanan dengan pelabuhan, kawasan industri, terminal petikemas, pergudangan, dan perusahaan pelayaran untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang.
Anne mengatakan, “Konektivitas antara kereta api dan pelabuhan membantu membangun arus barang yang lebih teratur. Produk manufaktur dapat dibawa dalam volume besar dari kawasan industri menuju pelabuhan, kemudian diteruskan melalui jalur laut menuju berbagai pulau.”
Menurut KAI, integrasi antarmoda dapat mengurangi perjalanan truk jarak jauh, menekan kepadatan lalu lintas, mempercepat distribusi barang, serta meningkatkan kepastian waktu pengiriman.
KAI juga mendorong pemanfaatan arus barang dua arah agar petikemas yang mengangkut produk manufaktur dari Pulau Jawa dapat kembali membawa hasil pertanian, perkebunan, perikanan, kerajinan, dan produk UMKM dari daerah tujuan.
Anne mengungkapkan, “Tempat tinggal seseorang seharusnya tidak membuatnya harus menanggung biaya yang jauh lebih besar untuk memperoleh kebutuhan pokok, perlengkapan sekolah, pakaian, maupun kebutuhan rumah tangga. Karena itu, penguatan konektivitas logistik perlu diarahkan untuk mengurangi kesenjangan biaya distribusi antarwilayah.”
Ia menambahkan, “Pertumbuhan angkutan petikemas perlu diarahkan untuk memperkuat industri, memperlancar distribusi, dan memperluas pemerataan akses terhadap barang. KAI akan terus mendorong kolaborasi agar konektivitas rel dan pelabuhan memberi manfaat bagi dunia usaha serta masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.”
- Penulis :
- Aditya Yohan



