HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat pada Awal Perdagangan, Ditopang Sentimen Positif Domestik dan Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Menguat pada Awal Perdagangan, Ditopang Sentimen Positif Domestik dan Global
Foto: (Sumber :Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis pagi dibuka menguat 28,78 poin atau 0,45 persen ke posisi 6.379,92, didorong kombinasi sentimen positif dari dalam negeri maupun global.

Pertumbuhan Ekonomi Jadi Penopang Pasar

Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga menguat 2,99 poin atau 0,47 persen ke posisi 636,98.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan secara teknikal peluang penguatan IHSG masih terbuka.

"Secara teknikal, beberapa indikator mengindikasikan potensi berlanjutnya penguatan IHSG untuk menguji level 6.370-6.400," ungkap Ratna.

Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 5,29 persen secara year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 5,1 persen.

Meski demikian, angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I 2026.

Pertumbuhan ekonomi ditopang oleh meningkatnya konsumsi pemerintah melalui belanja pegawai dan berbagai program pemerintah, serta investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mencatat pertumbuhan tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Industri Pengolahan Masih Jadi Kontributor Utama

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama perekonomian nasional meskipun laju pertumbuhannya sedikit melambat.

Di sisi lain, kinerja ekspor tertahan karena pertumbuhan impor berlangsung lebih cepat.

Berdasarkan lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB), didukung penguatan sektor konstruksi yang terdorong pembangunan infrastruktur dan kawasan industri.

Sementara itu, sektor pertambangan mengalami perlambatan akibat pembatasan kuota produksi.

Penulis :
Aditya Yohan