HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Ditutup Melemah di Tengah Tekanan Bursa Asia dan Ketidakpastian Global

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

IHSG Ditutup Melemah di Tengah Tekanan Bursa Asia dan Ketidakpastian Global
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 7,43 poin atau 0,12 persen ke posisi 6.343,71 pada perdagangan Kamis sore, seiring pelemahan mayoritas bursa saham di kawasan Asia di tengah meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut melemah 3,13 poin atau 0,49 persen ke posisi 630,86.

Sentimen Global Masih Membayangi Pergerakan IHSG

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, mengatakan, "Bursa regional Asia bergerak melemah seiring sikap pelaku pasar yang terus memantau perkembangan di Timur Tengah."

Iran sebelumnya mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Oman terkait rute pengiriman melalui Selat Hormuz.

Kesepakatan tersebut meningkatkan harapan bahwa lebih banyak ekspor energi dapat mengalir melalui jalur strategis tersebut.

Pejabat Iran menyatakan pernyataan bersama masih dalam tahap finalisasi.

Jalur pengiriman diperkirakan tetap beroperasi selama dua hingga empat bulan.

Iran juga menegaskan pengaturan tersebut bukan berarti Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya.

Nico mengatakan, "Di sisi lain, pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan ketidakpastian upaya membuka kembali Selat Hormuz, potensi gangguan setelah serangan di laut Merah, yang mana kelompok pemberontak Houthi di Yaman mengklaim telah menghantam kapal tanker minyak Arab Saudi di perairan utara Laut Merah."

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat.

Investor memperhatikan pernyataan para pejabat Federal Reserve (The Fed).

Pasar juga menyoroti data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan penyerapan tenaga kerja.

Nico mengatakan, "Pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Fed tahun ini, sekarang hanya memperkirakan satu kenaikan hingga akhir tahun, turun dari dua kenaikan pada minggu lalu."

Data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan hanya terdapat tambahan 44.000 pekerjaan sektor swasta pada Juli 2026.

Jumlah tersebut menjadi pertumbuhan lapangan kerja terlemah sejak Januari 2026.

Angka tersebut juga berada di bawah proyeksi pasar yang memperkirakan penambahan 70.000 pekerjaan.

Gubernur Federal Reserve Lisa Cook kembali menegaskan kesiapan bank sentral menaikkan suku bunga apabila inflasi belum mereda.

Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, menilai saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mulai menaikkan suku bunga secara bertahap.

Faktor Domestik Belum Mampu Mengangkat Indeks

Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan ekonomi tersebut berada di atas ekspektasi pasar.

Meski demikian, data tersebut belum mampu mendorong IHSG menguat.

Pelaku pasar masih menerapkan strategi investasi yang selektif.

Pergerakan IHSG dinilai belum didukung sepenuhnya oleh saham-saham berfundamental besar.

Arus masuk investor asing juga belum menjadi penopang utama pergerakan indeks.

Kenaikan indeks lebih banyak ditopang oleh saham-saham yang bersifat spekulatif.

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat.

Hingga penutupan sesi pertama, IHSG masih bertahan di zona hijau.

Memasuki sesi kedua, IHSG berbalik melemah dan bergerak di zona merah hingga penutupan perdagangan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, terdapat empat sektor yang menguat.

Sektor energi menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi setelah naik 1,57 persen.

Sektor industri menguat 0,91 persen.

Sektor transportasi dan logistik naik 0,71 persen.

Sebanyak tujuh sektor mengalami pelemahan.

Sektor barang kesehatan mencatat penurunan terdalam sebesar 0,55 persen.

Sektor properti turun 0,54 persen.

Sektor teknologi melemah 0,46 persen.

Saham dengan kenaikan harga terbesar adalah TMPO, PDES, FAST, IATA, dan JGLE.

Saham dengan penurunan harga terbesar adalah TALF, BACH, ROCK, ISAP, dan GPSO.

Frekuensi perdagangan saham mencapai 2.661.000 kali transaksi.

Volume perdagangan tercatat sebanyak 53,47 miliar lembar saham.

Nilai transaksi mencapai Rp18,15 triliun.

Sebanyak 278 saham menguat.

Sebanyak 354 saham melemah.

Sebanyak 331 saham ditutup tidak berubah.

Pada penutupan perdagangan regional, Indeks Nikkei melemah 0,89 persen ke 65.712,00, Indeks Shanghai menguat 0,57 persen ke 3.900,35, Indeks Hang Seng melemah 1,49 persen ke 25.530,28, Indeks Kospi turun 4,58 persen ke 6.296,38, dan Indeks Kuala Lumpur melemah 0,63 persen ke 1.737,15.

Penulis :
Shila Glorya