HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat Saat Investor Menanti Tinjauan MSCI Agustus 2026

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Menguat Saat Investor Menanti Tinjauan MSCI Agustus 2026
Foto: (Sumber :Pengunjung melintas disamping layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (7/8/2026). IHSG pada perdagangan Jumat (7/8) ditutup menguat 65,94 poin atau menguat 1,04 persen ke level 6.409,65 dan level ini menandai posisi tertinggi IHSG dalam tiga bulan terakhir. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/agr.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia menguat pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026, ketika pelaku pasar masih bersikap wait and see terhadap hasil tinjauan MSCI untuk saham global, termasuk saham Indonesia.

IHSG dibuka naik 9,88 poin atau 0,16 persen ke posisi 6.277,76, sedangkan Indeks LQ45 menguat 1,12 poin atau 0,18 persen menjadi 626,91.

Pelaku pasar menantikan pengumuman tinjauan indeks MSCI yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026 sekitar pukul 23.00 Central European Summer Time (CEST) atau 13 Agustus 2026 sekitar pukul 04.00 WIB.

IHSG Berpeluang Menguji Level 6.377

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan penguatan apabila mampu melewati level teknikal tertentu.

"IHSG berpeluang kembali menguji 6.377, dengan breakout level tersebut membuka ruang penguatan menuju 6.463-6.500. Sebaliknya, pelemahan di bawah 6.264 berisiko membawa IHSG menguji 6.233, kemudian 6.186 dan 6.106," ujar Liza.

Pelaku pasar juga berharap reformasi pasar modal yang dilakukan regulator dapat membuka peluang bagi MSCI untuk mencabut status pembekuan atau freeze terhadap saham Indonesia dalam tinjauan indeks Agustus 2026.

Sentimen domestik lainnya berasal dari perkembangan calon definitif Gubernur Bank Indonesia setelah Destry Damayanti menjadi calon tunggal pengganti Perry Warjiyo.

Penerimaan pajak hingga akhir Juli 2026 tercatat Rp1.209,6 triliun atau 51,31 persen dari target APBN dan tumbuh 22,17 persen secara tahunan dari Rp990,01 triliun.

Pemerintah masih menghadapi potensi shortfall Rp46,9 triliun dengan proyeksi penerimaan sepanjang 2026 sebesar Rp2.310,8 triliun atau sekitar 98 persen dari target.

Sentimen Global dan Harga Energi Membayangi Pasar

Dari luar negeri, pasar mencermati meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran setelah Iran menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka hingga tuntutannya dipenuhi.

Penurunan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global, sementara upaya diplomatik melalui Oman dan Qatar masih berlangsung.

Pelaku pasar juga menunggu data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat periode Juli 2026 yang berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed.

Harga minyak Brent tercatat naik 1,72 persen menjadi sekitar 89 dolar AS per barel, sedangkan WTI menguat 1,30 persen ke atas 83 dolar AS per barel di tengah ketidakpastian mengenai Selat Hormuz.

Harga batu bara termal naik 0,23 persen menjadi 129,3 dolar AS per ton, tembaga naik 0,3 persen ke atas 6,6 dolar AS per pon, dan timah menguat 0,40 persen menjadi 55.752 dolar AS per ton.

Sementara itu, emas turun 0,52 persen menjadi 4.368 dolar AS per ons akibat aksi ambil untung dan nikel melemah 0,74 persen menjadi 16.820 dolar AS per ton di tengah ekspektasi peningkatan pasokan Indonesia.

Penulis :
Ahmad Yusuf