HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Melemah ke 6.340,39 saat Pasar Mencermati Hasil Tinjauan MSCI Agustus 2026

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Melemah ke 6.340,39 saat Pasar Mencermati Hasil Tinjauan MSCI Agustus 2026
Foto: (Sumber :Pekerja melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (27/7/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/agr/pri..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia melemah 33,46 poin atau 0,52 persen ke posisi 6.340,39 pada Kamis (13/8/2026) pagi saat pelaku pasar mencermati hasil tinjauan MSCI terhadap saham Indonesia periode Agustus 2026.

IHSG sebelumnya dibuka menguat, tetapi mulai bergerak melemah pada pukul 09.15 WIB, sementara Indeks LQ45 turun 4,00 poin atau 0,63 persen ke posisi 629,84.

Pasar Mencermati Perubahan Indeks MSCI

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyebut pergerakan IHSG masih memiliki peluang menguat selama mampu bertahan pada level tertentu.

"Selama IHSG mampu bertahan di atas 6.308-6.269, peluang breakout di atas 6.377 tetap terbuka dengan target penguatan menuju 6.462 hingga 6.550, sementara resistance mayor berikutnya berada di sekitar 6.635/6.723. Sebaliknya, apabila kembali gagal menembus 6.377 dan turun di bawah 6.308, IHSG berpotensi menguji 6.269 lalu 6.247 sebagai area support utama," ujar Liza.

MSCI dalam tinjauan indeks Agustus 2026 melakukan perubahan komposisi saham Indonesia, termasuk mengeluarkan dua saham dari MSCI Global Standard Indexes dengan salah satunya diturunkan ke kategori MSCI Global Small Cap Index.

MSCI juga memindahkan satu saham ke kategori MSCI Global Small Cap Index dan mengeluarkan sembilan saham Indonesia dari indeks tersebut.

Setelah perubahan itu, sembilan saham Indonesia masih menghuni MSCI Global Standard Index, sedangkan sekitar 33 saham bertahan dalam daftar MSCI Global Small Cap Indexes.

MSCI tidak mengubah komposisi negara Emerging Markets dalam MSCI Frontier Emerging Markets Index setelah menyelesaikan Annual Country Review 2026.

"Hasil review ini menunjukkan tidak terdapat perubahan terhadap daftar negara Emerging Markets yang saat ini masuk dalam indeks, sehingga belum ada perubahan komposisi yang berasal dari review tahunan tersebut," ujar Liza.

Sentimen Fiskal dan Inflasi AS Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, utang pemerintah Indonesia tercatat mencapai Rp10.293,69 triliun hingga Juni 2026 atau setara 41,26 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Meski masih di bawah batas 60 persen PDB, tren ini perlu diwaspadai untuk menjaga keberlanjutan fiskal," ujar Liza.

Dari mancanegara, sentimen pasar cenderung positif setelah data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat periode Juli 2026 sesuai ekspektasi.

CPI utama AS naik 0,1 persen secara bulanan dan melambat menjadi 3,4 persen secara tahunan, sedangkan CPI inti naik 0,2 persen secara bulanan dan turun menjadi 2,5 persen secara tahunan.

"Namun, pasar tetap mewaspadai potensi kenaikan inflasi pada Agustus akibat lonjakan harga minyak," ujar Liza.

Pelaku pasar selanjutnya menantikan data Producer Price Index (PPI) dan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk mencermati arah inflasi dan kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed.

Ketegangan Geopolitik Turut Membayangi Pasar

Ketegangan geopolitik juga menjadi perhatian setelah Amerika Serikat dan Iran kembali berselisih mengenai kendali atas Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump menyatakan negaranya memiliki kendali penuh atas jalur tersebut, sementara Iran menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka sebelum AS menghentikan permusuhan dan memenuhi sejumlah tuntutan.

"Serangan terhadap kapal komersial di kawasan Bab el-Mandeb juga meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan rantai pasokan energi," ujar Liza.

Di pasar Asia, indeks Nikkei menguat 1,62 persen, Shanghai naik 0,45 persen, dan Kospi menguat 4,08 persen, sementara Hang Seng melemah 0,27 persen dan Straits Times melemah.

Penulis :
Ahmad Yusuf