
Pantau - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) meluncurkan platform digital hargasawitindonesia.id untuk memudahkan petani sawit swadaya mengakses informasi harga tandan buah segar (TBS) dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat Medali Emas Manurung mengatakan jutaan petani sawit swadaya selama puluhan tahun menghadapi keterbatasan akses terhadap informasi harga TBS dan CPO.
Kesenjangan informasi tersebut membuat posisi tawar petani lemah, sementara perbedaan harga antardaerah maupun antara petani swadaya dan plasma sulit dipantau secara terbuka.
“Keterbukaan informasi merupakan prasyarat penting untuk mewujudkan keadilan harga bagi petani,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Platform Sajikan Harga TBS hingga CPO Internasional
DPP Apkasindo dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menghadirkan hargasawitindonesia.id sebagai platform untuk meningkatkan transparansi data harga dan memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pasok sawit nasional.
Platform tersebut menyajikan informasi harga TBS petani, harga CPO nasional dan internasional, perbandingan harga petani swadaya dengan plasma, analisis disparitas harga antardaerah, serta proyeksi pergerakan harga.
“Dengan format berbasis web, informasi diharapkan mudah diakses dan dipahami petani,” katanya.
Menurut Gulat, sekitar 42 persen kebun sawit di Indonesia dikelola petani sehingga keterbukaan informasi harga menjadi faktor strategis dalam meningkatkan kesejahteraan mereka.
“Kalau semua pelaku memiliki informasi yang sama mengenai harga CPO dan TBS, posisi tawar petani akan jauh lebih kuat,” kata Gulat.
Gulat menegaskan keterbukaan data tidak ditujukan untuk mempertentangkan petani dengan industri, tetapi untuk menciptakan ekosistem yang lebih sehat dengan referensi informasi yang sama bagi seluruh pihak.
Petani Bisa Laporkan Perbedaan Harga
Apkasindo juga menyiapkan fitur pelaporan yang memungkinkan petani menyampaikan temuan mengenai perbedaan harga secara signifikan di lapangan.
Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus memperkuat pengawasan tata niaga TBS.
Gulat menilai manfaat program biodiesel B50 belum sepenuhnya tercermin pada harga yang diterima petani sehingga platform tersebut diharapkan membantu mengidentifikasi penyebab disparitas harga.
Ketua Kelompok Pemasaran Hasil Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian Elvyrisma Nainggolan menilai digitalisasi informasi harga merupakan langkah positif yang sejalan dengan transformasi sektor perkebunan.
Menurut dia, sebagian data harga pemerintah masih dikelola secara manual sehingga platform digital dapat mempercepat penyebaran informasi dan memperluas partisipasi petani swadaya.
Platform tersebut ke depan berpotensi dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai sumber data, termasuk KPBN, ICDX, dan referensi internasional.
“Kita semua berharap semakin banyak organisasi petani yang ikut berkontribusi mengirimkan data sehingga gambaran harga di lapangan menjadi lebih akurat,” ujarnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



