
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak sideways pada perdagangan Senin (24/8/2026) saat pelaku pasar mencermati berbagai sentimen global dan domestik.
IHSG dibuka menguat 18,31 poin atau 0,28 persen ke posisi 6.544,00.
Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga naik 1,41 poin atau 0,22 persen ke posisi 646,00.
IHSG Berpeluang Menguji Level 6.602
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan pergerakan IHSG akan ditentukan kemampuan indeks mempertahankan area 6.462 hingga 6.408.
"Apabila IHSG mampu bertahan di atas area 6.462-6.408, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.602, dengan resistance lanjutan di sekitar 6.723. Sebaliknya, apabila terjadi koreksi dan IHSG gagal mempertahankan 6.462, indeks berpotensi menguji 6.408, kemudian 6.394 sebagai support berikutnya," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Risiko geopolitik dari konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu sentimen global yang diperhatikan karena berpotensi mengganggu pasokan energi dunia.
Sinyal bahwa Iran kemungkinan mencari jalan untuk mengakhiri konflik mulai meredakan sebagian kekhawatiran pelaku pasar.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran lebih memilih mengakhiri perang ketika masih berada dalam posisi yang kuat.
Perkembangan konflik tersebut menjadi faktor yang dapat memengaruhi harga minyak, inflasi global, serta pergerakan aset safe haven.
Ketegangan Dagang AS-Kanada Menambah Sentimen Pasar
Pelaku pasar juga mencermati meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan Kanada setelah negosiasi kedua negara gagal mencapai kesepakatan.
AS mulai memberlakukan tarif sebesar 50 persen terhadap produk Kanada senilai sekitar 20 miliar dolar AS.
Kanada berencana memberlakukan tarif balasan secara dollar for dollar mulai 8 September 2026 dengan menyasar sektor baja, produk susu, peralatan rumah tangga, alat pertanian, pulp dan kertas, serta elektronik.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menilai tuntutan terakhir AS terlalu besar, sementara tawaran yang diberikan terlalu kecil.
Eskalasi perselisihan perdagangan tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap rantai pasok dan perdagangan bilateral kedua negara.
Dari AS, data ekonomi yang kuat memberikan dukungan terhadap aset berisiko, tetapi kenaikan imbal hasil obligasi serta kekhawatiran terhadap inflasi dan defisit fiskal membatasi potensi penguatan pasar.
- Penulis :
- Aditya Yohan



