
Pantau - PT Pertamina Patra Niaga memproyeksikan Kilang Cilacap, Jawa Tengah, menjadi proyek green refinery pertama di Indonesia yang difokuskan untuk memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemandirian energi hijau nasional sekaligus meningkatkan produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora mengatakan keberlanjutan dan ketahanan energi perlu dikembangkan secara bersamaan.
“Bagi kami, keberlanjutan dan ketahanan energi bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu dibangun secara bersamaan,” ujar Kitty di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026).
Minyak Jelantah Diolah Menjadi Bahan Bakar Pesawat
Pertamina memanfaatkan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah sebagai salah satu bahan baku dalam pengembangan SAF di Kilang Cilacap.
Pemanfaatan minyak jelantah membuat limbah yang sebelumnya tidak terpakai dapat masuk ke dalam rantai nilai energi dan mendukung penerapan prinsip ekonomi sirkular.
Pengembangan SAF juga menjadi bagian dari upaya Pertamina Patra Niaga menghadirkan produk energi yang mengikuti perkembangan industri dan kebutuhan sektor penerbangan terhadap bahan bakar yang lebih berkelanjutan.
Kilang Unit IV Cilacap saat ini memiliki kapasitas produksi SAF sekitar 27 kiloliter per hari melalui unit Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT).
Pertamina menargetkan pembangunan kilang bioavtur baru dapat meningkatkan kapasitas produksi sebesar 860 kiloliter per hari sehingga total produksi mencapai 887 kiloliter per hari pada 2029.
Investasi Kilang Bioavtur Capai 1,1 Miliar Dolar AS
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro mengatakan proyek kilang bioavtur ditargetkan mulai berjalan pada 2027.
"Kami target proyek itu jalan pada 2027," kata Hermawan saat meninjau realisasi program Desa Energi Berdikari di Dusun Bondan, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026).
Kilang bioavtur tersebut direncanakan dibangun di lahan seluas 17,5 hektare yang berada di dekat Kilang Unit IV Cilacap.
Total investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai 1,1 miliar dolar AS dengan target operasi pada 2029.
Proyek tersebut diproyeksikan berpotensi memberikan tambahan terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp199 triliun per tahun.
Produksi bahan bakar ramah lingkungan dari proyek itu juga diperkirakan mampu mengurangi emisi sekitar 600 ribu ton setara karbon dioksida (CO2e) setiap tahun.
Selain dampak ekonomi dan lingkungan, pembangunan kilang bioavtur diproyeksikan menyerap sekitar 5.900 tenaga kerja.
Pertamina menempatkan pengembangan Kilang Cilacap sebagai salah satu langkah untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menyediakan alternatif bahan bakar penerbangan yang lebih berkelanjutan di Indonesia.
- Penulis :
- Aditya Yohan




