
Pantau - Institute for Essential Services Reform (IESR) mendorong pemerintah segera memulihkan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah yang masih mengalami kelangkaan dalam 7–10 hari ke depan guna menjaga aktivitas ekonomi dan mengurangi beban masyarakat akibat antrean panjang.
CEO IESR Fabby Tumiwa mengatakan gangguan pasokan BBM telah berdampak terhadap berbagai kelompok masyarakat yang bergantung pada ketersediaan bahan bakar untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kelompok yang terdampak antara lain pekerja harian, pengemudi angkutan dan ojek, nelayan, petani, pelaku usaha mikro, hingga sektor distribusi pangan.
“Situasi ini membuktikan bahwa penilaian ketahanan energi kita masih berada di atas kertas, belum diikuti kemampuan membangun cadangan energi, memperkuat manajemen logistik, dan menjalankan strategi krisis sebagaimana diamanatkan Undang-undang (UU) Energi. Presiden harus mengevaluasi secara menyeluruh kinerja kementerian dan lembaga yang bertugas mengamankan pasokan energi nasional serta protokol krisis energi kita,” kata Fabby dalam keterangan yang diterima, Minggu (13/9/2026).
Menurut Fabby, gangguan pasokan yang terjadi di Sulawesi Selatan, Jawa, hingga Sumatra bukan hanya menyulitkan masyarakat memperoleh BBM, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan distribusi.
Kondisi tersebut juga dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat apabila persoalan pasokan tidak segera diselesaikan.
IESR Dorong Normalisasi Distribusi BBM
IESR meminta pemerintah memperkuat normalisasi distribusi di daerah yang masih menghadapi tekanan pasokan dengan menambah volume BBM untuk sementara waktu.
Redistribusi BBM antar-terminal secara berkala juga dinilai perlu dilakukan untuk mempercepat pemulihan pasokan di wilayah yang mengalami kelangkaan.
Selain itu, pemerintah didorong memprioritaskan pasokan BBM bagi layanan publik serta sektor ekonomi yang memiliki peran penting terhadap aktivitas masyarakat.
Prioritas tersebut dapat diterapkan melalui antrean maupun waktu pelayanan khusus bagi angkutan umum, ambulans, kendaraan logistik pangan, nelayan, petani, dan kelompok lainnya.
IESR juga menilai keterbukaan informasi perlu diperkuat agar masyarakat mendapatkan kepastian mengenai kondisi pasokan BBM.
Informasi yang dinilai perlu disampaikan secara terbuka mencakup stok di terminal, jadwal pengiriman, ketersediaan BBM di SPBU, waktu antrean, hingga kuota penyaluran harian.
Konsumsi Pertalite dan Solar Meningkat
IESR menilai pemerintah juga perlu mengantisipasi lonjakan permintaan melalui sistem subsidi yang lebih adaptif.
Kebutuhan tersebut menjadi perhatian setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi memperlebar perbedaan harga antara BBM nonsubsidi dan BBM bersubsidi.
Berdasarkan data BPH Migas yang dikutip IESR, konsumsi harian Pertalite pada Agustus 2026 mencapai 84.368 kiloliter.
Jumlah tersebut tercatat 11,3 persen lebih tinggi dibandingkan tingkat konsumsi sebelum kenaikan harga Pertamax.
Pada periode yang sama, penyaluran solar meningkat 15,1 persen menjadi 58.271 kiloliter per hari.
Peningkatan konsumsi tersebut menjadi salah satu faktor yang menurut IESR perlu diperhitungkan dalam pengelolaan permintaan dan distribusi BBM.
Reformasi Subsidi BBM Dinilai Perlu Dilakukan Bertahap
Dalam jangka menengah, IESR mendorong pemerintah mereformasi mekanisme subsidi BBM secara bertahap dari subsidi berbasis komoditas menjadi bantuan yang lebih tepat sasaran kepada penerima manfaat.
Fabby menekankan perubahan sistem subsidi tersebut harus tetap memberikan perlindungan kepada kelompok masyarakat yang kehidupannya bergantung pada BBM.
Reformasi subsidi juga dinilai perlu diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional agar gangguan pasokan dapat diantisipasi dengan lebih baik.
“Penghematan subsidi harus diarahkan untuk memperkuat transportasi publik, elektrifikasi kendaraan, cadangan BBM regional, dan energi terbarukan,” kata Fabby.
Penguatan cadangan energi, manajemen logistik, distribusi, serta kesiapan menghadapi kondisi krisis menjadi bagian yang dinilai IESR penting untuk menjaga pasokan energi sekaligus keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat.
- Penulis :
- Gerry Eka




