
Pantau - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mengevaluasi 246 program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 untuk memastikan pelaksanaannya di 53 kawasan transmigrasi tetap sesuai dengan keluaran dan target transformasi transmigrasi.
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan evaluasi diperlukan karena pelaksanaan program menghadapi berbagai dinamika di lapangan, mulai dari aspirasi masyarakat hingga kondisi sosial, iklim, dan topografi.
"Program-program ini perlu ditelaah secara holistik karena menyangkut banyak aspek. Dinamika program bisa terjadi karena alasan kondisi sosial dan faktor lain sehingga perlu kajian lebih lanjut," kata Viva dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Viva dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi TEP 2026 di Jakarta pada Rabu (23/9/2026).
Evaluasi Jaga Program Tetap Sesuai Target
Viva mengatakan berbagai dinamika dalam pelaksanaan TEP perlu dibahas, didiskusikan, dan ditelaah agar penyesuaian program tidak menggeser keluaran maupun target yang telah disepakati.
Ia menegaskan hasil evaluasi tetap harus bermuara pada transformasi transmigrasi sehingga program dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan tanpa kehilangan tujuan utama.
"Hasil dari kegiatan ini nantinya akan menjadi keputusan bersama," ujarnya.
Kegiatan Monitoring dan Evaluasi TEP 2026 diikuti 150 peserta, termasuk ketua TEP dan penelaah proposal dari 10 perguruan tinggi negeri yang menjadi mitra Kementrans.
TEP 2026 melibatkan 1.476 peserta yang terbagi dalam 246 tim dan ditempatkan di 53 kawasan transmigrasi.
Para peserta terdiri atas guru besar, doktor, magister, dan sarjana yang bertugas menghasilkan model, prototipe, desain, pendampingan, serta rekomendasi kebijakan berdasarkan kondisi di lapangan.
Sepuluh perguruan tinggi yang terlibat adalah Universitas Indonesia, IPB University, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
TEP Didorong Hadirkan Aksi Nyata
Viva berharap implementasi program oleh sivitas akademika mampu mengembangkan kawasan transmigrasi melalui industrialisasi, peningkatan pendapatan masyarakat, dan pembentukan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.
"Dari kegiatan ini saya harap ada pandangan baru," katanya.
Ia juga mengharapkan TEP berjalan secara berkesinambungan untuk memperkuat kolaborasi dan alih pengetahuan sekaligus menghadirkan sumber daya manusia yang mampu mempercepat transformasi kawasan transmigrasi.
"Di lapangan membuktikan ketika ada manusia-manusia unggul di kawasan transmigrasi, di sana ada transfer ilmu pengetahuan, semangat, energi, inovasi, kreasi, dan memberikan nilai yang berbeda dari sebelumnya," ucap Viva.
Sebanyak 53 kawasan penugasan TEP 2026 merupakan bagian dari 154 kawasan transmigrasi yang telah dikunjungi dan dipetakan melalui TEP 2025.
Program TEP 2026 tidak hanya diarahkan pada riset dan pemetaan potensi ekonomi, tetapi juga tindak lanjut serta aksi nyata di kawasan transmigrasi.
Viva menyebut TEP 2026 turut diarahkan untuk menindaklanjuti rekomendasi TEP 2025 melalui pekerjaan teknis dan praktis, pengembangan inovasi, serta penguatan sistem pengelolaan potensi ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kementrans mencatat pelaksanaan TEP sebelumnya menghasilkan sekitar 400 keluaran yang kemudian diarahkan menjadi aksi nyata, mulai dari tahap perencanaan hingga implementasi di kawasan transmigrasi.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




