
Pantau - Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Pema Global Energi (PGE) kembali melaksanakan lifting sebanyak 86 ribu barel kondensat dari Wilayah Kerja (WK) B Aceh pada September 2026.
Kegiatan tersebut menjadi lifting kondensat WK B yang kedua setelah bencana hidrometeorologi sekaligus pengangkutan kedua sepanjang 2026.
Kepala Divisi Operasi Produksi BPMA Ibnu Hafizh mengatakan kegiatan tersebut penting untuk menjaga kesinambungan penyaluran kondensat dari WK B.
“Lifting kedua ini menjadi bagian penting untuk menjaga kesinambungan penyaluran kondensat WK B,” ungkap Ibnu.
MT Union Trust Angkut Kondensat ke Tuban
Kegiatan lifting dilakukan menggunakan kapal MT Union Trust yang mengangkut kondensat dari Terminal Blang Lancang di Lhokseumawe, Aceh.
Kondensat tersebut ditujukan untuk kebutuhan domestik dengan tujuan Kilang TPPI Tuban di Jawa Timur sebagai bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri.
Dalam pengapalan kali ini, total kargo yang dimuat ke kapal mencapai 102,4 ribu barel.
Dari jumlah tersebut, kargo yang berasal dari WK B yang dikelola PGE tercatat sebesar 86 ribu barel.
Pengapalan tersebut juga mencakup kargo milik PHE North Sumatra Offshore (PHE NSO) sebesar 16,53 ribu barel.
Sebelumnya, lifting kondensat WK B pada Juli 2026 berhasil dilakukan dengan volume mencapai 95,4 ribu barel.
Pelaksanaan lifting kedua menunjukkan penyaluran kondensat dari WK B dapat terus dilakukan seiring kegiatan produksi yang kembali berjalan.
BPMA bersama PGE juga berupaya mengoptimalkan realisasi lifting hingga akhir 2026 dengan memastikan hasil produksi dapat disalurkan melalui kegiatan yang direncanakan dengan baik dan memperhatikan keamanan.
“Dengan produksi yang telah kembali berjalan, tentunya kita perlu memastikan hasil produksi tersebut dapat disalurkan secara optimal melalui kegiatan lifting yang terencana dan aman,” kata Ibnu.
BPMA Perketat Pengawasan dan Utamakan Keselamatan
BPMA akan terus melakukan pengawasan dan berkoordinasi dengan KKKS serta berbagai pihak terkait dalam setiap kegiatan lifting kondensat.
Pengawasan dan koordinasi tersebut mencakup aspek produksi, penyimpanan, terminal, hingga proses pengangkutan kondensat.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kegiatan lifting terlaksana sesuai rencana dengan tetap menempatkan keselamatan operasi sebagai aspek utama.
“Langkah ini diperlukan untuk memastikan setiap kegiatan lifting dapat terlaksana sesuai dengan rencana dan tetap mengutamakan aspek keselamatan operasi,” ungkap Ibnu.
Deputi Operasi BPMA Muhammad Mulyawan turut menyampaikan apresiasi kepada PGE, PAG, PHE NSO, SKK Migas, serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses pengapalan kondensat.
Menurut Muhammad Mulyawan, keberhasilan pengapalan tidak terlepas dari koordinasi dan kesiapan seluruh pihak dalam menyelesaikan berbagai aspek teknis dan operasional sebelum lifting dilaksanakan.
“BPMA mengapresiasi seluruh pihak yang telah bekerja sama sehingga lifting kedua WK B tahun ini dapat terlaksana dengan aman dan selamat,” kata Muhammad Mulyawan.
Dengan terealisasinya lifting kedua tersebut, PGE menambah realisasi penyaluran kondensat WK B sebanyak 86 ribu barel pada 2026.
BPMA berharap kesinambungan lifting kondensat WK B dapat dipertahankan agar hasil produksi terus disalurkan secara optimal.
“Dengan demikian, produksi kondensat WK B dapat disalurkan secara optimal dan memberikan kontribusi terhadap pencapaian target lifting migas Aceh tahun ini,” ungkap Muhammad Mulyawan.
- Penulis :
- Arian Mesa




